BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Perkembangan tekhnologi dan komunikasi tidak
hanya berdampak pada kehidupan manusia saja. Ilmu pengetahuan juga mengalami
banyak pemutakhiran. Pergeseran paradigma pendidikan mengakibatkan semua lintas
disiplin ilmu berkembang dengan pesat. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan salah
satu disiplin ilmu yang terus berkembang. Perkembangan tersebut sebagai upaya
sadar para ahli pendidikan. Perbaikan kurikulum Ilmu Pengetahuan Alam terus di
upayakan sebagai pengaruh dari perkembangan tekhnologi tersebut. Hal ini
dilakukan untuk menciptkan generasi yang cerdas, tangguh, dan mencintai
lingkungan.
Ilmu Pengetahuan Alam adalah bidang kajian
tentang makhluk hidup dalam segala aspek, lingkungan, kehidupan, populasi, dan segala hal yang ada di
sekitar kita. Pembelajaran pengetahuan alam bukan merupakan hal yang asing,
karena dapat selalu kita jumpai dalam kehidupan disekitar kita.
Memperhatikan bidang kajian mata pelajaran
pengetahuan alam maka seharusnya pembelajaran di sekolah-sekolah merupakan
suatu kegiatan yang di senangi, dan bermakna bagi peserta didik. Kegiatan
belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif yang mewarnai
interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik. Interakasi yang bernilai
edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar diarahkan untuk mencapai tujuan
tertentu yang telah dirumuskan dalam sebelum pengjaran dilakukan. (Djamarah :
2006, 1). Sebagai suatu sistem interaksi edukatif mengandung sejumlah komponen
yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat,
sumber dan evaluasi (Djamarah : 2005, 16). Komponen – komponen tersebut saling
berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan yang telah di tetapkan.
Hamzah (2009) peranan guru sebagai pengelola
pembelajaran adalah menyediakan dan menggunakan fasilitas bagi begi
bermacam-macam kegiatan belajar mengajar. Sedangkan tujuan khususnya adalah
mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan
kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa bekerja dan belajar, serta membantu
siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan.
Dari uiraian diatas dapat diasumsikan bahwa
mata pelajaran pengetahuan alam mempunyai nilai yang strategis dan penting
dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul, handal, dan mencintai
lingkungan. Hal yang menjadi hambatan selam ini adalah kurang dikemasnya
pembelajaran pengetahuan alam dengan metode yang menarik, menantang dan
menyenangkan. Para guru sering kali menyampaikan materi pengetahuan alam apa
adanya, sehingga pembelajaran pengetahuan alam kurang menarik minat siswa dan
membosankan sehingga pada akhirnya menjadikan prestasi siswa kurang memuaskan.
Disisi lain juga karena kecenderungan siswa untuk aktif masih rendah. Ada
beberapa faktor yang mengacu ke dalam hal tersebut yaitu : siswa kurang
memiliki kemampuan untuk merumuskan gagasan sendiri, siswa siswa kurang
memiliki keberanian untuk menyampaikan pendapat kepada orang lain, dan siswa
belum biasa bersaing menyampaikan gagasan dan pendaptnya dengan teman lain.
Pembelajaran pengetahuan alam dianggap
sebagai sesuatu yang membosankan, kurang menantang dan tidak bermakna. Hal ini
mungkin disebabkan karena kemampuan guru kurang berdaya kreasi dalam
pembelajaran, kurang dikuasainya metari-materi pengetahuan oleh siswa, dan
kurangnya variasi pengajaran.
Meningkatnya aktivitas siswa akan lebih
mengarahkan pengetahuan alam kepada hal yang lebih bermakna. Dengan
keikutsertaan siswa menyusun dan membuat perencanaan proses belajar mengajar,
adanya dorongan semangat melalui intelektual emosional siswa, dan keikutsertaan
siswa secara kreatif dalam mendengarkan dan memperhatikan apa yang disajikan
guru akan membawa pembelajaran IPA lebih berhasil.
Banyak
cara agar pembelajaran pengetahuan alam menjadi pembelajaran yang lebih
bermakna, menyenangkan, dan berarti dalam kehidupan. Salah satu cara yang cukup
efektif adalah model pembelajaran quantum teaching dengan tekhnik Jigsaw. Oleh
karena itu perlu diadakan penelitian tindakan kelas untuk membuktikan bahwa
melalui pembelajaran model quamtum teaching tekhnik jigsaw dapat meningkatkan
hasil belajar dan aktifitas siswa dalam pembelajaran pengetahuan alam.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian masalah diatas keadaan
pembelajaran pengetahuan alam yang saat ini terjadi adalah :
1. Pembelajaran pengetahuan alam masih berjalan
monoton
2. Belum ada variasi dalam proses pembelajaran
3. Belum ditemukan model pembelajaran yang lebih
tepat
4. Belum ada hubungan imbal balik antara guru
dan siswa
5. Tekhnik yang digunakan bersifat konvensional\
6. Rendahnya kualitas pembelajatan pengetahuan
alam
7. Masih kuranya hasil belajar siswa untuk mata
pelajaran pengetahuan alam.
C.
Perumusan Masalah
Bertitik tolak dari identifikasi masalah diatas, permasalah
yang dapat dirumuskan adalah :
1.
Bagaimana
menerapkan pembelajaran model quantum teaching tekhnik Jigsaw agar dapat
meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran pengetahuan alam?
2.
Apakah
penggunaan pembelajaran model quantum teaching tekhnik jigsaw dapat
meningkatkan hasil belajar dan aktifitas siswa dalam pembelajaran mata
pelajaran pengetahuan alam?
D. Cara Memecahkan Masalah
Metode yang akan digunakan untuk memecahkan
masalah dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah mmodel pembelajaran
quantum teaching dengan tekhnik jigsaw. Dengan model pembelajaran ini
diharapkan hasil belajar dan aktifitas siswa dalam pembelajaran siswa
pengetahuan alam lebih meningkat.
E. Hipotesis Tindakan
Penelitian ini direncanakan terbagi dalam
tiga siklus, setiap siklus dilaksanakan mengikuti prosedur, perencanaan
(planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi
(reflecting). Melalui ketiga siklus akan diamati peningkatan hasil belajar dan
aktifitas siswa. Untuk itu, hal yang dirmuskan dalam hipotesis tindakan adalah
sebagai berikut :
1.
Dengan
diterapkannya model pembelajaran quantum teaching dengan tekhnik jigsaw dapat
meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran pemngetahuan sosial.
2.
Dengan
diterapkan model pembelajaran quantum teaching tekhnik jigsaw dapat
meningkatkan aktivitas siswa dalam mata pelajaran pengetahuan alam.
F.
Tujuan Penelitian Tindakan Kelas
1. Guru dapat meningkatkan
strategi dan kualitas dalam pembelajaran pengetahuan alam.
2. siswa merasa lebih mendapat
perhatian dalam mengungkapkan gagasan pendapat dan pertanyaan.
3. siswa dapat bekerja secara mandiri maupun kelompok serta
mempertanggung jawabkan tugas individu maupun kelompok.
4. seluruh siswa dapat menguasai
materi pelajaran secara tuntas.
G.
Manfaat Penelitian Tindakan Kelas
Uraian manfaat dari
hasil penelitian tindakan kelas ini dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Proses belajar mengajar pengetahuan alam
tidak lagi konvensional
2. Ditemukan strategi pembelajaran yang tepat,
tidak monoton, tetapi bersifat variatif.
3. Keberanian siswa mengungkapkan ide, pendpat,
pertanyaan dan saran meningkat.
4. Keaktifan siswa dalam mengerjakan tugas baik
mandiri maupun kelompok meningkat.
5. Kualitas pembelajaran pengetahuan alam
meningkat
6. Hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu
Pengetahuan Alam meningkat.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Hakikat
Strategi Pembelajaran Jigsaw
Hakikat
model pembelajarn quantum teaching akan di bahas dalam beberapa bagian yakni
pembelajaran quantum teaching dan prinsip-prinsip quantum teaching,
1.
Strategi Pembelajaran Jigsaw
Jigsaw
pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson dan teman-teman
di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di
Universitas John Hopkins (Arends, 2001).
Strategi
mengajar Jigsaw dikembangkan oleh Aronson et. al. sebagai metode Cooperative Learning.
Strategi ini dapat digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan,
ataupun berbicara.
Dalam
strategi ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa
dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih
bermakna. Selain itu, siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana
gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan
meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
Pembelajaran
kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri
dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas
penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada
anggota lain dalam kelompoknya (Arends, 1997).
Strategi
pembelajaran Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa
belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 6 orang secara heterogen dan
bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas
ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan
materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain (Arends, 1997).
Jigsaw
didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya
sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi
yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi
tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan demikian, “siswa saling
tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk
mempelajari materi yang ditugaskan” (Lie, A., 1994).
Para
anggota dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk diskusi
(tim ahli) saling membantu satu sama lain tentang topic pembelajaran yang
ditugaskan kepada mereka. Kemudian siswa-siswa itu kembali pada tim / kelompok
asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain tentang apa yang telah
mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli.
Pada
model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok
ahli. Kelompok asal yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan
kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok asal
merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli yaitu kelompok siswa yang
terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk
mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang
berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok
asal.
Hubungan
antara kelompok asal dan kelompok ahli digambarkan sebagai berikut (Arends,
1997) :
Kelompok
Asal

Kelompok
Ahli
Gambar.
Ilustrasi Kelompok Jigsaw
2.
Langkah-langkah Strategi Pembelajaran Jigsaw
Langkah
– langkah strategi pembelajaran jigsaw adalah sebagai berikut :
- Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari 4 – 6 siswa dengan kemampuan yang berbeda. Kelompok ini disebut kelompok asal. Jumlah anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dalam tipe Jigsaw ini, setiap siswa diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran tersebut. Semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli (Counterpart Group/CG). Dalam kelompok ahli, siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal. Kelompok asal ini oleh Aronson disebut kelompok Jigsaw (gigi gergaji). Misal suatu kelas dengan jumlah 40 siswa dan materi pembelajaran yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya terdiri dari 5 bagian materi pembelajaran, maka dari 40 siswa akan terdapat 5 kelompok ahli yang beranggotakan 8 siswa dan 8 kelompok asal yang terdiri dari 5 siswa. Setiap anggota kelompok ahli akan kembali ke kelompok asal memberikan informasi yang telah diperoleh atau dipelajari dalam kelompok ahli. Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik yang ada pada kelompok ahli maupun kelompok asal.

Gambar
Contoh Pembentukan Kelompok Jigsaw
- Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan.
- Guru memberikan kuis untuk siswa secara individual.
- Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya.
- Materi sebaiknya secara alami dapat dibagi menjadi beberapa bagian materi pembelajaran.
- Perlu diperhatikan bahwa jika menggunakan Jigsaw untuk belajar materi baru maka perlu dipersiapkan suatu tuntunan dan isi materi yang runtut serta cukup sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Dalam
pelaksanaan pembelajaran di sekolah tidaklah selalu berjalan dengan mulus
meskipun rencana telah dirancang sedemikian rupa. Hal-hal yang dapat menghambat
proses pembelajaran terutama dalam penerapan model pembelajaran Cooperative
Learning diantaranya adalah sebagai berikut :
- Kurangnya pemahaman guru mengenai penerapan pembelajaran Cooperative Learning.
- Jumlah siswa yang terlalu banyak yang mengakibatkan perhatian guru terhadap proses pembelajaran relatif kecil sehingga yang hanya segelintir orang yang menguasai arena kelas, yang lain hanya sebagai penonton.
- Kurangnya sosialisasi dari pihak terkait tentang teknik pembelajaran Cooperative Learning.
- Kurangnya buku sumber sebagai media pembelajaran.
- Terbatasnya pengetahuan siswa akan sistem teknologi dan informasi yang dapat mendukung proses pembelajaran.
Agar
pelaksanaan pembelajaran Cooperative Learning dapat berjalan dengan baik, maka
upaya yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :
- Guru senantiasa mempelajari teknik-teknik penerapan model pembelajaran Cooperative Learning di kelas dan menyesuaikan dengan materi yang akan diajarkan.
- Pembagian jumlah siswa yang merata, dalam artian tiap kelas merupakan kelas heterogen.
- Diadakan sosialisasi dari pihak terkait tentang teknik pembelajaran Cooperative Learning.
- Meningkatkan sarana pendukung pembelajaran terutama buku sumber.
- Mensosialisasikan kepada siswa akan pentingnya sistem teknologi dan informasi yang dapat mendukung proses pembelajaran.
B. Kerangka
Pemecahan Masalah
Kerangka
pemecahan masalah melalui tahapan :
1. Keadaan sekarang – diskusi pemecahan masalah
– evaluasi awal
1) Pembelajaran IPA monoton
2) Belum ditemukan strategi yang tepat
3) Metode konvensional
4) Rendahnya kualitas pembelajaran IPA
5) Rendahnya hasil pembelajaran IPA
2. Perlakuan – penerapan metode Jigsaw
1. Penjelasan strategi pembelajaran jigsaw
2. Pelatihan strategi pembelajaran jigsaw
3. Simulasi strategi pembelajaran jigsaw
3. Hasil yang diharapkan - evaluasi akhir
1. Guru mampu menerapkan strategi pembelajaran
jigsaw
2. Kulaitas pembelajaran meningkat
3. Hasil pemebalajatan IPA meningkat
C.
Hakikat hasil belajar Dan Aktifitas Siswa
1.
Hakikat hasil belajar
Untuk
mengatakan suatu proses dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan
masing-masing sejalan dengan filsafatnya. Berdasarkan kurikulum suatu proses
belajar mengajar dikatakan berhasil apabila tujuan intruksional khususnya dapat
dicapai. Untuk mengukur dan mengevakuasi tingkat keberhasilan belajar tersebut
dapat dilakukan melalui tes prestasi belajar.
Hasil
belajar dapat dilihat dari melihat hasil ulangan harian, nilai ulangan tengah
semester, nilai semester. Dalam penelitian tindakan kelas ini yang dimaksud
hasil belajar siswa adalah hasil nilai ulangan harian yang diperoleh siswa
dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Ulangan harian minimal dilaksankan
tiga dalam setiap semseter. Ulangan harian dilakukan setiap selesai proses
pembelajaran dalam satuan bahasan atau kompetensi tertentu.dalam ulangan harian
terdiri dari seperangkat soal yang harus di jawab oleh peserta didik. tujuan
ulangan harian adalah untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa, memperbaiki
program pembelajaran siswa serta sebagai pertimbangan dalam nilai bagi para
peserta didik.
2.
Hakikat aktivitas siswa
Aktifitas
siswa adalah keterlibatan siswa dalam bentuk perhatian, sikap, pikiran, dalam
pembelajaran guna menunjang keberhasilan proses belajar mengajar dan memperoleh
manfaat dari kegiatan tersebut. Peningkatan aktifitas siswa dapat dilihat dari
bertambahnya siswa yang bernai mengemukakan penndapatnya, meningkatnyanjumlah
siswa yang terlibat aktif dalam pembelejaran, meningkatnya jumlah siswa yang
saling berinteraksi membahas pelajaran. Metode belajar mengajar yang memancing
imbal balik akan lebih menyebabkan suasan pembelajaran akan lebih kondusif,
karena siswa akan lebih berperan terbuka dan sensitif dalam kegiatan belajar
mengajar.
Indikator
aktifitas siswa dapat dilihat dari :
-
Mayoritas
siswa yang beraktifitas dalam pembelajaran
-
Aktivitas
pembelajaran didominasi oleh kegiatan siswa
-
Mayoritas
siswa mampu menyelesaikan tugas yang diberikan guru dalam lks melalui stratgegi
pembelajaran jigsaw
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.
Setting penelitian
Seting dalam
penelitian tindakan kelas ini meliputi : tempat penelitian, waktu penelitian,
dan siklus PTK sebagai berikut.
1. Tempat penelitian
Penelitian
tindakan kelas ini dilaksnakan di MTs. Nurush Shomad Cahya Maju Kecamatan
Lempuing Kabupaten Ogan Komering Ilir untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan
Alam. Sebagai subjek dalam penelitian ini adalah kelas VII tahun pelajaran
2009/2010 dengan jumlah siswa sebanyak 30 orang, terdiri dari 13 siswa
laki-laki dan 17 siswa perempuan.
Pemilihan sekolah ini bertujuan
untuk memperbaiki dan meningkatkan proses pembelajaran.
2. Waktu Pnelitian
Penelitian
akan dilaksanakan pada awal tahun, yaitu bulan Mei sampai dengan Juni 2010.
Penentuan waktu penelitian mengacu pada kalender akademik sekolah, karena PTK
memerlukan siklus yang membutuhkan proses belajar mengajar efektif di kelas.
3. Siklus PTK
PTK ini
dalakasanakan melalui tiga siklus untuk melihat peningkatan hasil belajar dan
aktifitas siswa dalam mengikuti mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam memalui pembelajaran
dengan strategi pembelajaran jigsaw.
B. Persiapan
Penelitian tindakan kelas
Dalam PTK ini dilaksanakan dibuat berbagai
input instrumental yang akan dighunakan untuk memberi perlakuan dalam PTK yaitu
rencana pembelajaran yang akan dijadikan PTK, yaitu Kompetensi Dasar (KD) : Membandingkan
sifat fisika dan sifat kimia zat dan Melakukan pemisahan campuran dengan
berbagai cara berdasarkan sifat fisika dan sifat kimia.
Selain itu juga
dibuat perangkat pembelajaran berupa : 1) Lembar Kerja Siswa, 2) lembar
pengamatan diskusi, 3) lembar evaluasi. Dalam persiapan juga akan disusun
daftar nama kelompok diskusi yang dibuat secara heterogen.
C.
Subjek Penelitian
Dalam
Penelitian tindakan kelas ini yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas
7 yang terdiri 30 siswa dengan jumlah laki-laki 13 dan 17 jumlah perempuan
D.
Sumber
Data
Sumber
data dalam penelitian ini terdiri dari beberapa sumber yaitu siswa, guru dan
teman sejawat atau kolaborator.
1.
Siswa
Untuk
Mendapatkan data tentang hasil belajar dan aktivitas siswa dalam proses belajar
mengajar
2.
Guru
Guna melihat
tingkat keberhasilan implementasi pembelajaran model quantum dengan tekhnik
jigsaw dan hasil belajar serta aktivitas siswa dalam proses pembelajaran
3.
Teman Sejawat dan Kolaborator
Teman sejawat
dan kolaborator dimaksudkan sebagai sumnber data untuk melihat implementasi
penelitian tindakan kelas secara komprehensif, baik dari sisi maupun guru.
E.
Tekhnik dan Alat Pengumpulan Data
1.
Tekhnik
Tekhnik
pengumpulan dat dalam penelitian ini adalah tes, observasi, wawancara,
wawancara dan diskusi.
a. Tes : dipergunakan untuk mendapatkan data
tentang hasil belajart siswa
b. Observasi : dipergunakan untuk mengumpulkan
data tentang partisipasi PBM dan implenetasi tekhnik jigsaw.
c. Wawancara : untuk mendapatkan data tentang
tingkat keberhasilan impelemntasi pembelajaran quantum teaching tekhnik jigsaw.
d. Diskusi antara guru, teman sejawat, dan
kolaborator untuk refleksi hasil siklus PTK
2.
Alat Pengumpulan Data
Alat Pengumpul
Data dalam PTK ini meliputi tes, observasi, wawancara, kuisioner dan diskusi
sebagaimana berikut ini.
a. Tes. Menggunakan butir soal / instrumen soal untuk
megnukur hasil belajar siswa
b. Observasi : menggunakan lembar observasi
untuk mengukur tingkat partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar
c. Wawancara : mengungkapkan panduan wawancara
untuk mengetahui pendaat atau sikap siswa dan teman sejawat tentang
pembelajaran tekhnik jigsaw
d. Kuisioner : untuk mengetahui pendapat atau sikap siswa dan teman sejawat
tentang pembelajaran tekhnik jigsaw
e. Diskusi : menggunakan lembar hasil pengamatan
F.
Indikator Kinerja
Dalam
PTK ini yang akan dilihat indikator kinerjanya selain siswa adalah guru, karena
guru merupakan fasilitator yang sangat berpengaruh terhadap kinerja siswa.
1.
Siswa
a. Tes : rata-rata nilai ulangan harian
b. Observasi : keaktifan siswa dalam proses
belajar mengajar
2.
Guru
a. Dokumentasi : kehadiran siswa
b. Observasi : hasil observasi
G.
Analisis Data
Data
yang dikumpulkan pada setiap kegiatan observasi dari pelaksanaan siklus
penelitian tindakan kelas dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan
tekhnik presentase untuk melihat kecenderungan yang terjadi dalam kegiatan
pembelajaran.
1. Hasil belajar : dengan menganalisa rata-rata
nilai ulangan harian. Kemudian dikategorikan dalam klasifikasi tinggi, sedang,
dan rendah.
2. Aktivitas siswa dalam proses belajar Ilmu
Pengetahuan Alam : dengan menganalisa tingkat keaktifan siswa dalam proses
belajar mengajar. Kemudian dikategorikan dalam klasifikasi tinggi, sedang dan
rendah.
3. Implementasi pembelajaran qunatum
teaching tekhnik jigsaw : dengan
menganalisa tingkat keberhasilan impelementasi tekhnik jigsaw kemudian dikategorikan
dalam klasiikasi berhasil, kurang berhasil, dan tidak berhasil.
H.
Prosedur Penelitian
Prosedur Penelitian yang diterapkan dalam hal ini
antara lain :
Siklus I
Siklus pertama dalam PTK ini terdiri dari perencanaan,
pelaksanaan, pengamatan dan refleksi sebagai berikut :
1. Perencanaan (planning)
a. Tim peneliti
melakukan analisis kurikulum untuk mengetahui komptensi dasar yang akan
disampaikan kepada siswa dengan menggunakan pembelajaran quantum teaching
tekhnik jigsaw.
b. Membuat rencana
pembelajaran quantum tekhnik jigsaw
c. Membuat lembar
kerja siswa
d. Membuat
instrumen yang digunakan dalam siklus PTK
e. Menyusun alat
evaluasi pembelajaran
2. Pelaksanaan (Acting)
a. membagi siswa
dalam delapan kelompok
b. menyajikan
materi pelajaran
c. memberikan
materi diskusi
d. Dalam diskusi
kelompok, guru mengarahkan kelompok
e. Salah satu dari
kelompok diskusi, mempresentasikan hasil kerja kelompoknya
f. Guru memberikan
kuis atau pertanyaan
g. Siswa diberikan
kesempatan untuk memberikan tanggapan.
h. Penguatan dan
kesimpulan secara bersama-sama
i.
Melakukan pengamatan atau observasi
3. Pengamatan (Observation)
a. Situasi
kegiatan belajar mengajar
b. Keaktifan siswa
c. Kemampuan siswa
dalam diskusi kelompok
4. Refleksi (Reflecting)
Penelitian tindakan kelas ini berhasil apabila
memenuhi beberapa syarat sebagai berikut.
a. Sebagian besar
(75% dari siswa) berani dan mampu menjawab pertanyaan dari guru
b. Sebagian besar
(70% dari siswa) berani menanggapi dan mengemukakan pendapat tentang jawaban
siswa yang lain.
c. Sebagain besar
(70% dari siswa) berani mampu untuk bertanya tentang materi pelajaran pada hari
itu
d. Lebih dari 80%
anggota kelompok aktif dalam tugas kelompoknya
e. Penyelesaian
tugas kelompok sesuai dengan waktu
Siklus II
Seperti halnya siklus pertama siklus kedua pun terdiri
dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi
1. Perencanaan (planning)
Tim peneliti membuat rencana pelajaran berdasarkan
hasil refleksi pada siklus pertama
2. Pelaksanaan (Acting)
Guru melaksanakan pembelajaran quantum teaching dengan
dngan tekhnik jigsaw berdasarkan rencana pembelajaran hasil refleksi siklus
pertama .
3. Pengamatan (Observation)
Tim peneliti (guru dan kolaborator) melakukan
pengamatan terhadap aktifitas pembejaran kooperatif tekhnik jigsaw
4. Reefleksi (reflecting)
Tim peneliti melakukan refleksi terhadap pelaksanaan
siklus kedua dan menyusun rencana (replaining)
untuk siklus ketiga.
Siklus III
Siklus ketiga merupakan putaran ketiga dari
pembelajaran quantum teaching tipe jigsaw dengan tahapan sama seperti pada
siklus pertama dan kedua.
1.
Perencanaan
(planning)
Tim peneliti membuat rencana pelajaran berdasarkan
hasil refleksi pada siklus kedua.
2.
Pelaksanaan
(Acting)
Guru melaksanakan pembelajaran quantum teaching dengan
dngan tekhnik jigsaw berdasarkan rencana pembelajaran hasil refleksi siklus
kedua .
3.
Pengamatan
(Observation)
Tim peneliti (guru dan kolaborator) melakukan
pengamatan terhadap aktifitas pembejaran kooperatif tekhnik jigsaw
4.
Reefleksi
(reflecting)
Tim peneliti melakukan refleksi terhadap pelaksanaan
siklus kedua ketigadan menganalisis untuk serta membuat kesimpulan atas
pelaksanaan pembelajaran quantum teaching tekhnik jigsaw dalam peningkatan
hasil belajar siswa dan aktivitas siswa dalam pembelajaran IPA..
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
A. Siklus Pertama (satu Pertemuan)
Dalam siklus
pertama yang dilakukan dalam satu pertemuan terdapat empat tahap, yakni
perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi serta replainning, sebagaimana
berikut ini.
B. Siklus Kedua (dua pertemuan)
C. Siklus ketiga (tiga pertemuan)
I. Daftar Pustaka
Nasih, Munjin, Ahmad, S. Pd, M. Ag & Kholidah, Nur, Lilik, S. Pd. M.
Pd. I. (2009). Metode Strategi
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.Bandung : PT Refika Mandiri.
Harto, Kasinyo, Dr. M. Ag & Abdurrahmansyah, M. Ag, (2009) Metodologi
Pembelajaran Berbasis Active Learning, Palembang : Grafika Telindo





