Tuesday, March 8, 2016

strategi jigsaw dan prestasi belajar

BAB I
PENDAHULUAN 
A.      Latar Belakang Masalah
Perkembangan tekhnologi dan komunikasi tidak hanya berdampak pada kehidupan manusia saja. Ilmu pengetahuan juga mengalami banyak pemutakhiran. Pergeseran paradigma pendidikan mengakibatkan semua lintas disiplin ilmu berkembang dengan pesat. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan salah satu disiplin ilmu yang terus berkembang. Perkembangan tersebut sebagai upaya sadar para ahli pendidikan. Perbaikan kurikulum Ilmu Pengetahuan Alam terus di upayakan sebagai pengaruh dari perkembangan tekhnologi tersebut. Hal ini dilakukan untuk menciptkan generasi yang cerdas, tangguh, dan mencintai lingkungan.
Ilmu Pengetahuan Alam adalah bidang kajian tentang makhluk hidup dalam segala aspek, lingkungan, kehidupan, populasi, dan segala hal yang ada di sekitar kita. Pembelajaran pengetahuan alam bukan merupakan hal yang asing, karena dapat selalu kita jumpai dalam kehidupan disekitar kita.
Memperhatikan bidang kajian mata pelajaran pengetahuan alam maka seharusnya pembelajaran di sekolah-sekolah merupakan suatu kegiatan yang di senangi, dan bermakna bagi peserta didik. Kegiatan belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif yang mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik. Interakasi yang bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan dalam sebelum pengjaran dilakukan. (Djamarah : 2006, 1). Sebagai suatu sistem interaksi edukatif mengandung sejumlah komponen yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat, sumber dan evaluasi (Djamarah : 2005, 16). Komponen – komponen tersebut saling berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan yang telah di tetapkan.
Hamzah (2009) peranan guru sebagai pengelola pembelajaran adalah menyediakan dan menggunakan fasilitas bagi begi bermacam-macam kegiatan belajar mengajar. Sedangkan tujuan khususnya adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa bekerja dan belajar, serta membantu siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan.
Dari uiraian diatas dapat diasumsikan bahwa mata pelajaran pengetahuan alam mempunyai nilai yang strategis dan penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul, handal, dan mencintai lingkungan. Hal yang menjadi hambatan selam ini adalah kurang dikemasnya pembelajaran pengetahuan alam dengan metode yang menarik, menantang dan menyenangkan. Para guru sering kali menyampaikan materi pengetahuan alam apa adanya, sehingga pembelajaran pengetahuan alam kurang menarik minat siswa dan membosankan sehingga pada akhirnya menjadikan prestasi siswa kurang memuaskan. Disisi lain juga karena kecenderungan siswa untuk aktif masih rendah. Ada beberapa faktor yang mengacu ke dalam hal tersebut yaitu : siswa kurang memiliki kemampuan untuk merumuskan gagasan sendiri, siswa siswa kurang memiliki keberanian untuk menyampaikan pendapat kepada orang lain, dan siswa belum biasa bersaing menyampaikan gagasan dan pendaptnya dengan teman lain.
Pembelajaran pengetahuan alam dianggap sebagai sesuatu yang membosankan, kurang menantang dan tidak bermakna. Hal ini mungkin disebabkan karena kemampuan guru kurang berdaya kreasi dalam pembelajaran, kurang dikuasainya metari-materi pengetahuan oleh siswa, dan kurangnya variasi pengajaran.
Meningkatnya aktivitas siswa akan lebih mengarahkan pengetahuan alam kepada hal yang lebih bermakna. Dengan keikutsertaan siswa menyusun dan membuat perencanaan proses belajar mengajar, adanya dorongan semangat melalui intelektual emosional siswa, dan keikutsertaan siswa secara kreatif dalam mendengarkan dan memperhatikan apa yang disajikan guru akan membawa pembelajaran IPA lebih berhasil.
Banyak  cara agar pembelajaran pengetahuan alam menjadi pembelajaran yang lebih bermakna, menyenangkan, dan berarti dalam kehidupan. Salah satu cara yang cukup efektif adalah model pembelajaran quantum teaching dengan tekhnik Jigsaw. Oleh karena itu perlu diadakan penelitian tindakan kelas untuk membuktikan bahwa melalui pembelajaran model quamtum teaching tekhnik jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar dan aktifitas siswa dalam pembelajaran pengetahuan alam.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian masalah diatas keadaan pembelajaran pengetahuan alam yang saat ini terjadi adalah :
1.      Pembelajaran pengetahuan alam masih berjalan monoton
2.      Belum ada variasi dalam proses pembelajaran
3.      Belum ditemukan model pembelajaran yang lebih tepat
4.      Belum ada hubungan imbal balik antara guru dan siswa
5.      Tekhnik yang digunakan bersifat konvensional\
6.      Rendahnya kualitas pembelajatan pengetahuan alam
7.      Masih kuranya hasil belajar siswa untuk mata pelajaran pengetahuan alam.

C. Perumusan Masalah
Bertitik tolak  dari identifikasi masalah diatas, permasalah yang dapat dirumuskan adalah :
1.      Bagaimana menerapkan pembelajaran model quantum teaching tekhnik Jigsaw agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran pengetahuan alam?
2.      Apakah penggunaan pembelajaran model quantum teaching tekhnik jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar dan aktifitas siswa dalam pembelajaran mata pelajaran pengetahuan alam?

D. Cara Memecahkan Masalah
Metode yang akan digunakan untuk memecahkan masalah dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah mmodel pembelajaran quantum teaching dengan tekhnik jigsaw. Dengan model pembelajaran ini diharapkan hasil belajar dan aktifitas siswa dalam pembelajaran siswa pengetahuan alam lebih meningkat.

E. Hipotesis Tindakan
Penelitian ini direncanakan terbagi dalam tiga siklus, setiap siklus dilaksanakan mengikuti prosedur, perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Melalui ketiga siklus akan diamati peningkatan hasil belajar dan aktifitas siswa. Untuk itu, hal yang dirmuskan dalam hipotesis tindakan adalah sebagai berikut :
1.      Dengan diterapkannya model pembelajaran quantum teaching dengan tekhnik jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran pemngetahuan sosial.
2.      Dengan diterapkan model pembelajaran quantum teaching tekhnik jigsaw dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam mata pelajaran pengetahuan alam.

F. Tujuan Penelitian Tindakan Kelas
1. Guru dapat meningkatkan strategi dan kualitas dalam pembelajaran pengetahuan alam.
2.  siswa merasa lebih mendapat perhatian dalam mengungkapkan gagasan pendapat dan pertanyaan.
3. siswa dapat bekerja secara mandiri maupun kelompok serta mempertanggung jawabkan tugas individu maupun kelompok.
4.  seluruh siswa dapat menguasai materi pelajaran secara tuntas.

G. Manfaat Penelitian Tindakan Kelas
Uraian manfaat dari hasil penelitian tindakan kelas ini dapat diuraikan sebagai berikut :
1.    Proses belajar mengajar pengetahuan alam tidak lagi konvensional
2.    Ditemukan strategi pembelajaran yang tepat, tidak monoton, tetapi bersifat variatif.
3.    Keberanian siswa mengungkapkan ide, pendpat, pertanyaan dan saran meningkat.
4.    Keaktifan siswa dalam mengerjakan tugas baik mandiri maupun kelompok meningkat.
5.    Kualitas pembelajaran pengetahuan alam meningkat
6.    Hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam meningkat.








BAB II
KAJIAN TEORI

A.  Hakikat Strategi Pembelajaran Jigsaw
Hakikat model pembelajarn quantum teaching akan di bahas dalam beberapa bagian yakni pembelajaran quantum teaching dan  prinsip-prinsip quantum teaching,
1.    Strategi Pembelajaran Jigsaw
Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson dan teman-teman di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins (Arends, 2001).
Strategi mengajar Jigsaw dikembangkan oleh Aronson et. al. sebagai metode Cooperative Learning. Strategi ini dapat digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun berbicara.
Dalam strategi ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Arends, 1997).
Strategi pembelajaran Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain (Arends, 1997).
Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan demikian, “siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan” (Lie, A., 1994).
Para anggota dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk diskusi (tim ahli) saling membantu satu sama lain tentang topic pembelajaran yang ditugaskan kepada mereka. Kemudian siswa-siswa itu kembali pada tim / kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain tentang apa yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli.
Pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal.
Hubungan antara kelompok asal dan kelompok ahli digambarkan sebagai berikut (Arends, 1997) :
Kelompok Asal
Description: Cooperative Learning1
Kelompok Ahli
Gambar. Ilustrasi Kelompok Jigsaw


2.    Langkah-langkah Strategi Pembelajaran Jigsaw
Langkah – langkah strategi pembelajaran jigsaw adalah sebagai berikut :

  • Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari 4 – 6 siswa dengan kemampuan yang berbeda. Kelompok ini disebut kelompok asal. Jumlah anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dalam tipe Jigsaw ini, setiap siswa diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran tersebut. Semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli (Counterpart Group/CG). Dalam kelompok ahli, siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal. Kelompok asal ini oleh Aronson disebut kelompok Jigsaw (gigi gergaji). Misal suatu kelas dengan jumlah 40 siswa dan materi pembelajaran yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya terdiri dari 5 bagian materi pembelajaran, maka dari 40 siswa akan terdapat 5 kelompok ahli yang beranggotakan 8 siswa dan 8 kelompok asal yang terdiri dari 5 siswa. Setiap anggota kelompok ahli akan kembali ke kelompok asal memberikan informasi yang telah diperoleh atau dipelajari dalam kelompok ahli. Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik yang ada pada kelompok ahli maupun kelompok asal.
Description: Cooperative Learning2
Gambar Contoh Pembentukan Kelompok Jigsaw
  • Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan.
  • Guru memberikan kuis untuk siswa secara individual.
  • Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya.
  • Materi sebaiknya secara alami dapat dibagi menjadi beberapa bagian materi pembelajaran.
  • Perlu diperhatikan bahwa jika menggunakan Jigsaw untuk belajar materi baru maka perlu dipersiapkan suatu tuntunan dan isi materi yang runtut serta cukup sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah tidaklah selalu berjalan dengan mulus meskipun rencana telah dirancang sedemikian rupa. Hal-hal yang dapat menghambat proses pembelajaran terutama dalam penerapan model pembelajaran Cooperative Learning diantaranya adalah sebagai berikut :
  1. Kurangnya pemahaman guru mengenai penerapan pembelajaran Cooperative Learning.
  2. Jumlah siswa yang terlalu banyak yang mengakibatkan perhatian guru terhadap proses pembelajaran relatif kecil sehingga yang hanya segelintir orang yang menguasai arena kelas, yang lain hanya sebagai penonton.
  3. Kurangnya sosialisasi dari pihak terkait tentang teknik pembelajaran Cooperative Learning.
  4. Kurangnya buku sumber sebagai media pembelajaran.
  5. Terbatasnya pengetahuan siswa akan sistem teknologi dan informasi yang dapat mendukung proses pembelajaran.
Agar pelaksanaan pembelajaran Cooperative Learning dapat berjalan dengan baik, maka upaya yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :
  1. Guru senantiasa mempelajari teknik-teknik penerapan model pembelajaran Cooperative Learning di kelas dan menyesuaikan dengan materi yang akan diajarkan.
  2. Pembagian jumlah siswa yang merata, dalam artian tiap kelas merupakan kelas heterogen.
  3. Diadakan sosialisasi dari pihak terkait tentang teknik pembelajaran Cooperative Learning.
  4. Meningkatkan sarana pendukung pembelajaran terutama buku sumber.
  5. Mensosialisasikan kepada siswa akan pentingnya sistem teknologi dan informasi yang dapat mendukung proses pembelajaran.


B.  Kerangka Pemecahan Masalah
Kerangka pemecahan masalah melalui tahapan :
1.      Keadaan sekarang – diskusi pemecahan masalah – evaluasi awal
1)      Pembelajaran IPA monoton
2)      Belum ditemukan strategi yang tepat
3)      Metode konvensional
4)      Rendahnya kualitas pembelajaran IPA
5)      Rendahnya hasil pembelajaran IPA

2.      Perlakuan – penerapan metode Jigsaw
1.      Penjelasan strategi pembelajaran jigsaw
2.      Pelatihan strategi pembelajaran jigsaw
3.      Simulasi strategi pembelajaran jigsaw

3.      Hasil yang diharapkan -  evaluasi akhir
1.      Guru mampu menerapkan strategi pembelajaran jigsaw
2.      Kulaitas pembelajaran meningkat
3.      Hasil pemebalajatan IPA meningkat
C.    Hakikat hasil belajar Dan Aktifitas Siswa
1.    Hakikat hasil belajar
Untuk mengatakan suatu proses dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan filsafatnya. Berdasarkan kurikulum suatu proses belajar mengajar dikatakan berhasil apabila tujuan intruksional khususnya dapat dicapai. Untuk mengukur dan mengevakuasi tingkat keberhasilan belajar tersebut dapat dilakukan melalui tes prestasi belajar.
Hasil belajar dapat dilihat dari melihat hasil ulangan harian, nilai ulangan tengah semester, nilai semester. Dalam penelitian tindakan kelas ini yang dimaksud hasil belajar siswa adalah hasil nilai ulangan harian yang diperoleh siswa dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Ulangan harian minimal dilaksankan tiga dalam setiap semseter. Ulangan harian dilakukan setiap selesai proses pembelajaran dalam satuan bahasan atau kompetensi tertentu.dalam ulangan harian terdiri dari seperangkat soal yang harus di jawab oleh peserta didik. tujuan ulangan harian adalah untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa, memperbaiki program pembelajaran siswa serta sebagai pertimbangan dalam nilai bagi para peserta didik.

2.    Hakikat aktivitas siswa
Aktifitas siswa adalah keterlibatan siswa dalam bentuk perhatian, sikap, pikiran, dalam pembelajaran guna menunjang keberhasilan proses belajar mengajar dan memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut. Peningkatan aktifitas siswa dapat dilihat dari bertambahnya siswa yang bernai mengemukakan penndapatnya, meningkatnyanjumlah siswa yang terlibat aktif dalam pembelejaran, meningkatnya jumlah siswa yang saling berinteraksi membahas pelajaran. Metode belajar mengajar yang memancing imbal balik akan lebih menyebabkan suasan pembelajaran akan lebih kondusif, karena siswa akan lebih berperan terbuka dan sensitif dalam kegiatan belajar mengajar.
Indikator aktifitas siswa dapat dilihat dari :
-          Mayoritas siswa yang beraktifitas dalam pembelajaran
-          Aktivitas pembelajaran didominasi oleh kegiatan siswa
-          Mayoritas siswa mampu menyelesaikan tugas yang diberikan guru dalam lks melalui stratgegi pembelajaran jigsaw

















BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.      Setting penelitian
Seting dalam penelitian tindakan kelas ini meliputi : tempat penelitian, waktu penelitian, dan siklus PTK sebagai berikut.
1.      Tempat penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksnakan di MTs. Nurush Shomad Cahya Maju Kecamatan Lempuing Kabupaten Ogan Komering Ilir untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Sebagai subjek dalam penelitian ini adalah kelas VII tahun pelajaran 2009/2010 dengan jumlah siswa sebanyak 30 orang, terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan.
Pemilihan sekolah ini bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses pembelajaran.
2.      Waktu Pnelitian
Penelitian akan dilaksanakan pada awal tahun, yaitu bulan Mei sampai dengan Juni 2010. Penentuan waktu penelitian mengacu pada kalender akademik sekolah, karena PTK memerlukan siklus yang membutuhkan proses belajar mengajar efektif di kelas.
3.      Siklus PTK
PTK ini dalakasanakan melalui tiga siklus untuk melihat peningkatan hasil belajar dan aktifitas siswa dalam mengikuti mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam memalui pembelajaran dengan strategi pembelajaran jigsaw.

B.  Persiapan Penelitian tindakan kelas
Dalam PTK ini dilaksanakan dibuat berbagai input instrumental yang akan dighunakan untuk memberi perlakuan dalam PTK yaitu rencana pembelajaran yang akan dijadikan PTK, yaitu Kompetensi Dasar (KD) : Membandingkan sifat fisika dan sifat kimia zat dan Melakukan pemisahan campuran dengan berbagai cara berdasarkan sifat fisika dan sifat kimia.
Selain itu juga dibuat perangkat pembelajaran berupa : 1) Lembar Kerja Siswa, 2) lembar pengamatan diskusi, 3) lembar evaluasi. Dalam persiapan juga akan disusun daftar nama kelompok diskusi yang dibuat secara heterogen.

C.      Subjek Penelitian
Dalam Penelitian tindakan kelas ini yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas 7 yang terdiri 30 siswa dengan jumlah laki-laki 13 dan 17 jumlah perempuan
D.       Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari beberapa sumber yaitu siswa, guru dan teman sejawat atau kolaborator.

1.      Siswa
Untuk Mendapatkan data tentang hasil belajar dan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar

2.      Guru
Guna melihat tingkat keberhasilan implementasi pembelajaran model quantum dengan tekhnik jigsaw dan hasil belajar serta aktivitas siswa dalam proses pembelajaran
3.      Teman Sejawat dan Kolaborator
Teman sejawat dan kolaborator dimaksudkan sebagai sumnber data untuk melihat implementasi penelitian tindakan kelas secara komprehensif, baik dari sisi maupun guru.
E.       Tekhnik dan Alat Pengumpulan Data
1.      Tekhnik
Tekhnik pengumpulan dat dalam penelitian ini adalah tes, observasi, wawancara, wawancara dan diskusi.
a.       Tes : dipergunakan untuk mendapatkan data tentang hasil belajart siswa
b.      Observasi : dipergunakan untuk mengumpulkan data tentang partisipasi PBM dan implenetasi tekhnik jigsaw.
c.       Wawancara : untuk mendapatkan data tentang tingkat keberhasilan impelemntasi pembelajaran quantum teaching tekhnik jigsaw.
d.      Diskusi antara guru, teman sejawat, dan kolaborator untuk refleksi hasil siklus PTK

2.      Alat Pengumpulan Data
Alat Pengumpul Data dalam PTK ini meliputi tes, observasi, wawancara, kuisioner dan diskusi sebagaimana berikut ini.
a.       Tes. Menggunakan butir soal / instrumen soal untuk megnukur hasil belajar siswa
b.      Observasi : menggunakan lembar observasi untuk mengukur tingkat partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar
c.       Wawancara : mengungkapkan panduan wawancara untuk mengetahui pendaat atau sikap siswa dan teman sejawat tentang pembelajaran tekhnik jigsaw
d.      Kuisioner : untuk mengetahui  pendapat atau sikap siswa dan teman sejawat tentang pembelajaran tekhnik jigsaw
e.       Diskusi : menggunakan lembar hasil pengamatan

F.       Indikator Kinerja
Dalam PTK ini yang akan dilihat indikator kinerjanya selain siswa adalah guru, karena guru merupakan fasilitator yang sangat berpengaruh terhadap kinerja siswa.
1.      Siswa
a.       Tes : rata-rata nilai ulangan harian
b.      Observasi : keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar

2.      Guru
a.       Dokumentasi : kehadiran siswa
b.      Observasi : hasil observasi

G.      Analisis Data
Data yang dikumpulkan pada setiap kegiatan observasi dari pelaksanaan siklus penelitian tindakan kelas dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan tekhnik presentase untuk melihat kecenderungan yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran.
1.      Hasil belajar : dengan menganalisa rata-rata nilai ulangan harian. Kemudian dikategorikan dalam klasifikasi tinggi, sedang, dan rendah.
2.      Aktivitas siswa dalam proses belajar Ilmu Pengetahuan Alam : dengan menganalisa tingkat keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar. Kemudian dikategorikan dalam klasifikasi tinggi, sedang dan rendah.
3.      Implementasi pembelajaran qunatum teaching  tekhnik jigsaw : dengan menganalisa tingkat keberhasilan impelementasi tekhnik jigsaw kemudian dikategorikan dalam klasiikasi berhasil, kurang berhasil, dan tidak berhasil.




H.      Prosedur Penelitian
Prosedur  Penelitian yang diterapkan dalam hal ini antara lain :
Siklus I
Siklus pertama dalam PTK ini terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi sebagai berikut :
1.      Perencanaan (planning)
a.       Tim peneliti melakukan analisis kurikulum untuk mengetahui komptensi dasar yang akan disampaikan kepada siswa dengan menggunakan pembelajaran quantum teaching tekhnik jigsaw.
b.      Membuat rencana pembelajaran quantum tekhnik jigsaw
c.       Membuat lembar kerja siswa
d.      Membuat instrumen yang digunakan dalam siklus PTK
e.       Menyusun alat evaluasi pembelajaran
2.      Pelaksanaan (Acting)
a.       membagi siswa dalam delapan kelompok
b.      menyajikan materi pelajaran
c.       memberikan materi diskusi
d.      Dalam diskusi kelompok, guru mengarahkan kelompok
e.       Salah satu dari kelompok diskusi, mempresentasikan hasil kerja kelompoknya
f.       Guru memberikan kuis atau pertanyaan
g.      Siswa diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan.
h.      Penguatan dan kesimpulan secara bersama-sama
i.        Melakukan pengamatan atau observasi
3.      Pengamatan (Observation)
a.       Situasi kegiatan belajar mengajar
b.      Keaktifan siswa
c.       Kemampuan siswa dalam diskusi kelompok
4.      Refleksi (Reflecting)
Penelitian tindakan kelas ini berhasil apabila memenuhi beberapa syarat sebagai berikut.
a.       Sebagian besar (75% dari siswa) berani dan mampu menjawab pertanyaan dari guru
b.      Sebagian besar (70% dari siswa) berani menanggapi dan mengemukakan pendapat tentang jawaban siswa yang lain.
c.       Sebagain besar (70% dari siswa) berani mampu untuk bertanya tentang materi pelajaran pada hari itu
d.      Lebih dari 80% anggota kelompok aktif dalam tugas kelompoknya
e.       Penyelesaian tugas kelompok sesuai dengan waktu
Siklus II
Seperti halnya siklus pertama siklus kedua pun terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi
1.      Perencanaan (planning)
Tim peneliti membuat rencana pelajaran berdasarkan hasil refleksi pada siklus pertama
2.      Pelaksanaan (Acting)
Guru melaksanakan pembelajaran quantum teaching dengan dngan tekhnik jigsaw berdasarkan rencana pembelajaran hasil refleksi siklus pertama .
3.      Pengamatan (Observation)
Tim peneliti (guru dan kolaborator) melakukan pengamatan terhadap aktifitas pembejaran kooperatif tekhnik jigsaw

4.      Reefleksi (reflecting) 
Tim peneliti melakukan refleksi terhadap pelaksanaan siklus kedua dan menyusun rencana (replaining)  untuk siklus ketiga.
Siklus III
Siklus ketiga merupakan putaran ketiga dari pembelajaran quantum teaching tipe jigsaw dengan tahapan sama seperti pada siklus pertama dan kedua.
1.        Perencanaan (planning)
Tim peneliti membuat rencana pelajaran berdasarkan hasil refleksi pada siklus kedua.
2.        Pelaksanaan (Acting)
Guru melaksanakan pembelajaran quantum teaching dengan dngan tekhnik jigsaw berdasarkan rencana pembelajaran hasil refleksi siklus kedua .
3.        Pengamatan (Observation)
Tim peneliti (guru dan kolaborator) melakukan pengamatan terhadap aktifitas pembejaran kooperatif tekhnik jigsaw
4.        Reefleksi (reflecting) 
Tim peneliti melakukan refleksi terhadap pelaksanaan siklus kedua ketigadan menganalisis untuk serta membuat kesimpulan atas pelaksanaan pembelajaran quantum teaching tekhnik jigsaw dalam peningkatan hasil belajar siswa dan aktivitas siswa dalam pembelajaran IPA..






BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

A.  Siklus Pertama (satu Pertemuan)
Dalam siklus pertama yang dilakukan dalam satu pertemuan terdapat empat tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi serta replainning, sebagaimana berikut ini.

B.  Siklus Kedua (dua pertemuan)
C.  Siklus ketiga (tiga pertemuan)
I.       Daftar Pustaka
Nasih, Munjin, Ahmad, S. Pd, M. Ag & Kholidah, Nur, Lilik, S. Pd. M. Pd. I. (2009).  Metode Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.Bandung : PT Refika Mandiri.
Harto, Kasinyo, Dr. M. Ag & Abdurrahmansyah, M. Ag, (2009) Metodologi Pembelajaran Berbasis Active Learning, Palembang : Grafika Telindo