Saturday, May 7, 2016

AMPERA BRIDGE IN PALEMBANG

The bridge is in addition to its function as a liaison between Seberang Seberang Ulu and downstream separated by the Musi River as well as the tourist attractions, the Ampera Bridge is also a symbol of the city of Palembang.
Bridge shall be called the Golden Gate Indonesia, the Ampera bridge structure.
  • Length: 1117 meters
  • Middle section: 71.90 meters
  • Width: 22 meters
  • Height of Surface Water: 11.5
  • Tower height: 63 meters
  • A tower 75 meters
  • Weight: 944 tons
Ampera Bridge was built in April 1962, originally named the bridge Ampera Bridge Bung Karno. Dedication Bridge was in 1965 also reinforced the name Bung Karno as a bridge, while the Bridge Bung Karno is the longest bridge in Southeast Asia, because of the anti Bung Karno very strong then in 1966 the name of the bridge is replaced with the Ampera (Amanat Penderitan people) until now.
Privileges Ampera Bridge was once the Division of the bridge shall be adopted meant that ships passing through the Musi River does not collide with the body Bridge, weighting each pendulum reaches 500 tons, with a speed of lifting the pendulum of 10 meters per minute, while the bridge can be lifted vessel with a width of 60 meters and a height of 44.50 meters to the river Musi.
By reason of the appointment of the central part of the bridge is considered disturbing the flow of traffic on it then in 1970 in stopping the operation and in 1990 the pendulum weights on the bridge lowered.
And now the Ampera Bridge is one of the attractions in Palembang, therefore it feels incomplete if a visit to Palembang without stopping to look or take pictures in Ampera bridge, because the bridge has undergone many changes and now the Ampera Bridge in beautify with lights bridge adorn the body and light sparkling on the river Musi make us linger to enjoy the beauty of the pride of the citizens of Palembang, Indonesia.

Ampera Bridge is a tourist icon of Palembang, South Sumatra. The Ampera bridge and the Musi River divides the heart of Palembang community daily activities. At night time, the light is so beautiful decoration. Ampera Bridge is a bridge in the city of Palembang, South Sumatra Province, Indonesia. Ampera Bridge, which has become a sort of symbol of the city, located in the heart of the city, connecting Seberang Ulu and Ilir separated by the Musi River. Before the Ampera Bridge, people who want to go up or vice versa, simply hassle of having to cross the River Musi. With the Ampera Bridge, facilitate the daily activities surrounding communities. Ampera bridge has become a tourist icon of Palembang. Ampera Bridge length up to thousands of meters, beautiful architecture, and views of the bridge, which paved the Musi River, the main attraction of tourists to take pictures. When hungry, around the Musi River, which is located under the bridge could be your culinary tourism destination. There are various special menu Palembang, such as for pizza and much more. The beauty of the bridge Ampera will feel perfectly at night. Dozens of beautiful lights that will decorate the bridge, guaranteed to make you stunned. View special obligation enshrined in the camera. Not a few tourists who spent the night with a photo or enjoy light the lamp.

for you blogger to get 1000 visitor click http://www.maxvisits.com/ free!

Tuesday, May 3, 2016

PONDOK PESANTREN AL–ASHRIYYAH NURUL IMAN

Pada awal terjadinya krisis moneter, banyak sekali kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Terjadinya kasus semanggi pada tanggal 12 Mei 1998 menyebabkan jatuh dan terpuruknya perekonomian bangsa Indonesia. Di saat itu As Syekh Habib Saggaf Bin Mahdi Bin Syekh Abu Bakar Bin Salim yang masih bertempat tinggal di kawasan perumahan Bintaro Jaya merasa prihatin dan sedih dengan hal tersebut. Semakin banyaknya para remaja yang putus sekolah serta tidak mampu melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yang disebabkan krisis moneter serta terjadinya krisis moral dimana-mana, menjadikan beliau bersikeras mendirikan suatu lembaga pendidikan gratis demi meringankan beban bagi mereka yang tidak mampu, umumnya bangsa Indonesia. Sehingga dengan tekad dan kemauan beliau yang mulia tersebut, beliau rela meninggalkan kota metropolitan dan mengambil keputusan untuk menetap di desa. Beliau akhirnya pindah ke Desa Waru Jaya, Kecamatan Parung, Jawa Barat Desa yang penduduknya dibawah garis kemiskinan yang mayoritas penghasilan mereka hanya mengandalkan penjualan daun melinjo serta ikan air tawar. Kemudian, mulailah Beliau membangun sebuah Pondok Pesantren. Dengan disaksikan para undangan dari Pejabat Pemerintahan Daerah Kabupaten Bogor, para Pejabat Tinggi Negara Republik Indonesia dan juga Duta Besar Negara-Negara Arab, Brunei Darussalam, Singapura dan Malaysia, maka “Peletakkan Batu Pertama” Pendirian Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman dilaksanakan pada tanggal 16 Juni 1998 di atas lahan 17 (tujuh belas) hektare. Diawali dengan peresmian peletakkan batu pertama pendirian Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman, maka dalam operasionalnya, Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman mendapatkan rekomendasi dari Kepala Desa Waru Jaya dan Camat Kecamatan Parung Kabupaten Bogor tertanggal 10 Gedung sekolah santri putri Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman Maret 1999, serta telah didaftarkan pada kantor Departemen Agama Kabupaten Bogor sejak tanggal 12 Maret 1999 dengan nomor : MI-10/1/PP/007/825/1999, maka dicatatlah akte pendirian Pondok PesantrenAl-Ashriyyah Nurul Iman tanggal 25 Maret 1999 No. 7 dihadapan Notaris Lasmiati Sadikin, SH. Pada mulanya para santri menetap di asrama belakang rumah beliau, namun karena makin banyaknya santri yang berminat maka dibangunkan sebuah kobong (bangunan dari bambu) yang berukuran 4 X 5 meter di areal tanah yang awalnya sebuah hutan semak belukar dan rumput ilalang. Hari ke hari semakin banyak santri yang berminat hingga kobong tersebut tidak lagi mencukupi untuk di tempati. Mulailah beliau membangun gedung asrama di samping kobong tersebut, mulai dari dari pembangunan gedung H. Isya dengan luas 15x12 M2 pada tahun 2000. Asrama memberikan pandangan baru dalam pat tinggal para santri yang mayoritas hanya maklum adanya, dengan adanya bangunan baru tersebut untuk mereka, membuat penambahan kesemangatan dalam belajar mereka. Namun, perkembangan tak putus begitu saja, dari tahun ketahun prioritas perkembangan jumlah para santri begitu drastis yang pada akhirnya muncul asrama-asrama baru yang menjadi objek penampungan para santri seperti asrama Gandhi seva loka dengan luas 15x12 M2, lalu disusul dengan di bangunnya asrama jadid dengan luas 15x12 M2 masih pada tahun 2000. memang pada halnya, sebagai pengemban tugas para santri di tuntut untuk memproyektifitikan keseharian mereka antara pengembangan ilmu akhirat sebagai program utama pada bidang pendidikan pondok pesantren, dengan IPTEK sebagai pendamping projek mereka didunia, maka di bangun kembali satu tempat ibadah untuk para santri dengan luas 32.5x9.50 M2, di depan pintu gerbang pondok Mulai dari sinilah perkembangan demi perkembangan terlihat. Terbukti dari munculnya asrama-asrama baru di lingkungan perkomplekan pondok pesantren yang menjadi pemandangan baru di wilayah perkomplekan putra dan putri yaitu asrama Hanif (perkomplekan putra) dengan luas 12x6 M2, asrama H. Kosim (perkomplekan putra) dengan luas 12x6 M2, asrama Olga Fatma (perkomplekan putra) dengan luas 20x12 M2, asrama Anwariyyah (perkomplekan putra) dengan luas 56x12 M2,tiga local asrama (perkomplekan putri), asrama dengan tiga belas kamar (perkomplekan putri), gedung belajar tingkat dua (perkomplekan putri) dan dua tempat ibadah (Masjid) diarea perkomplekan putra dengan luas 36x36 M2 dan putri dengan luas30x30 M2.
Kondisi Fisik Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman
Tempat yang menjadi pesantren tersebut sangatlah luas , bahkan pesantren itupun juga memiliki tanah beberapa hektar, tanah tersebut hasil dari penjualan roti dan air minum yang bernama DINTIKU (Air Cantik), bahkan santri tersebut dibekali do’a anti peluru, dan diminta untuk membuat senjata terdiri dari pentungan kayu dan alat-alat bela diri lainnya,Di samping itu juga, santri yang ada di pesantren tersebut tergolong banyak, bahkan mencapai kurang lebih 12.000.000 santri, yang berasal dari sabang sampai meroeke. gedung/bangunan yang masih kokoh, dan santriwan-santriwati tiap tahunnya bertambah.