Saturday, March 19, 2016

Pendidikan nilai



PENDIDIKAN NILAI

 Bab I. Permasalahan
A. Latar Belakang
Memasuki abad ke-21 yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) amat mempengaruhi terjadinya pergeseran nilai-nilai, baik nilai budaya, adat istiadat, maupun nilai agama. Perkembangan iptek tersebut nyaris menghilangkan batas ruang dan waktu  sehingga dunia seakan menyatu dalam suatu kampung global (global village). Pertukaran informasi termasuk nilai antarbangsa langsung secara cepat dan penuh dinamika, sehingga mendorong terjadinya proses perpaduan nilai, kekaburan nilai, bahkan terkikisnya nilai-nilai asli yang menjadi identitas komunitas yang bersifat sakral, kini tengah berada di persimpangan jalan.

Tuesday, March 8, 2016

strategi jigsaw dan prestasi belajar

BAB I
PENDAHULUAN 
A.      Latar Belakang Masalah
Perkembangan tekhnologi dan komunikasi tidak hanya berdampak pada kehidupan manusia saja. Ilmu pengetahuan juga mengalami banyak pemutakhiran. Pergeseran paradigma pendidikan mengakibatkan semua lintas disiplin ilmu berkembang dengan pesat. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan salah satu disiplin ilmu yang terus berkembang. Perkembangan tersebut sebagai upaya sadar para ahli pendidikan. Perbaikan kurikulum Ilmu Pengetahuan Alam terus di upayakan sebagai pengaruh dari perkembangan tekhnologi tersebut. Hal ini dilakukan untuk menciptkan generasi yang cerdas, tangguh, dan mencintai lingkungan.

METODE RESITASI

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Perkembangan teknologi dan komunikasi tidak hanya berdampak pada kehidupan manusia saja. Ilmu pengetahuan juga mengalami banyak pemutakhiran. Pergeseran paradigma pendidikan mengakibatkan semua lintas disiplin ilmu berkembang dengan pesat. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan salah satu disiplin ilmu yang terus berkembang. Perkembangan tersebut sebagai upaya sadar para ahli pendidikan. Perbaikan kurikulum Ilmu Pengetahuan Alam terus di upayakan sebagai pengaruh dari perkembangan teknologi tersebut. Hal ini dilakukan untuk menciptkan generasi yang cerdas, tangguh, dan mencintai lingkungan.

PTK METODE KERJA KELOMPOK


MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS V MI NURUL IMAN 3 LUBUK SEBERUK OKI DALAM POKOK BAHASAN MENGHITUNG LUAS BANGUN DATAR SEDERHANA MELALUI METODE  KERJA KELOMPOK “

A. Latar Belakang Masalah
Memasuki era globalisasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi dan informasi menjadikan mata pelajaran matematika sangat penting sekali. Mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.
Mata pelajaran matematika pada satuan pendidikan Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah meliputi aspek-aspek Bilangan, Geometri dan Pengukuran. Dalam pembelajaran di sekolah untuk keperluan penyampaian obyek-obyek matematika yang abstrak kepada peserta didik, diperlukan suatu sistem penyampaian obyek matematika. Oleh karena itu dalam pengajaran matematika dapat dilakukan berbagai upaya untuk merancang, memilih, dan melakukan berbagai pendekatan atau metode mengajar agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Komunikasi matematika perlu menjadi fokus perhatian yang utama dalam pembelajaran matematika, sebab melalui komunikasi peserta didik dapat mengkoordinasi dan mengkonsolidasi berpikir matematisnya. Karena metematika mempunyai potensi yang sangat baik dalam memacu terjadinya pengembangan ilmu maupun dalam mempersiapkan warga masyarakat yang mampu mengantisipasi perkembangan zaman
Namun pada kenyataannya pembelajaran matematika di MI Nurul Iman 3 khususnya kelas 5, mata pelajaran matematika masih menjadi mata pelajaran yang menakutkan, karena pola pikir anak pedesaan yang memandang bahwa pembelajaran matematika adalah sesuatu hal yang sulit, mereka dituntut untuk mampu berthitung, menghapal, sampai memecahkan masalah tentang sebuah hal yang pasti dengan jawaban yang pasti juga atau tidak dapat dikarang.
Disamping itu, dalam proses pembelajaran guru masih terpaku pada proses pembelajaran yang konvensional, mereka menganggap bahwa anak didik adalah seseorang yang harus di takut-takuti agar guru dihormati. Pada dasarnya guru khususnya di MI Nurul Iman 3 belum sepenuhnya memahami tentang pola pembelajaran yang baik yang mengarah kepada pembelajaran
aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
Guru di MI Nurul Iman 3 belum memahami pendekatan pemecahan masalah yang merupakan fokus dalam pembelajaran matematika yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai cara penyelesaian. Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu dikembangkan keterampilan memahami masalah, membuat model matematika, menyelesaikan masalah, dan menafsirkan solusinya. Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, alat peraga, atau media lainnya.
Berbagai usaha untuk mengadakan perbaikan pengajaran matematika. di MI Nurul Iman 3 telah banyak dilakukan namun hasil belajar matematika yang dicapai peserta didik masih rendah. Rendahnya prestasi belajar matematika tersebut disebabkan oleh berbagai faktor. Dalam pembelajaran matematika memerlukan kondisi terpenuhinya buku teks dan laboratorium yang signifIkan, relevan, dan mutakhir; serta guru sebagai model inkuiri yang kreatif, produktif, dan inovatif dan ini tidak seluruhnya dapat dipenuhi di sekolah. Realita menunjukkan bahwa setiap evaluasi belajar pada pokok bahasan menggunakan menghitung luas bangun datar sederhana selalu saja ada peserta didik yang mendapatkan nilai di bawah 5 sekisar 40% dari keseluruhan peserta didik, oleh karena itu perlu adanya variasi dalam model pembelajaran di kelas.
Pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan kurikulum dan potensi peserta didik merupakan kemampuan dan keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru. Upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran matematika telah banyak dilakukan seperti adanya sosialisasi kurikulum, pengadaan buku paket, menerapkan strategi dari model pembelajaran, pemberian motivasi, penambahan jam pelajaran dan sebagainya. Salah satu model pembelajaran matematika dengan pokok bahasan menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah yaitu menggunakan metode kerja kelompok, hal ini dipandang tepat karena peserta didik dapat melakukan kerjasama dalam pembelajaran yang berprinsip Contextual Teaching and Learning (CTL), sehingga peserta didik dalam belajar dapat menemukan sesuatu sendiri (inquiry), bertanya dengtan temannya (questioning), melakukan sesuatu sesuai dengan konstruksi (constructivism), melakukan masyarakat belajar (learning community), melakukan pengumpulan data (authentic assessment), merefleksikan kemampuannya (reflection), dan melakukan pemodelan (modelling). Pada metode kerja kelompok guru bukan lagi berperan sebagai satu-satunya nara sumber dalam pembelajaran, melainkan berperan sebagai mediator, stabilisator dan manajer pembelajaran. Iklim belajar yang berlangsung dalam suasana keterbukaan dan demokratis akan memberikan kesempatan yang optimal bagi peserta didik untuk memperoleh informasi yang lebih banyak mengenai materi yang diajarkan dan sekaligus melatih sikap dan keterampilan sosialnya sebagai bekal dalam kehidupannya di masyarakat, sehingga perolehan dan hasil belajar akan semakin meningkat. Di dalam metode kerja kelompok, suasana pembelajaran berlangsung secara terbuka dan demokratis antara guru dengan peserta didik dan peserta didik dengan peserta didik sehingga lebih memungkinkan pengembangan nilai, sikap, moral dan keterampilan peserta didik. Disamping itu, iklim belajar mengajar yang berkembang akan merangsang dan meningkatkan motivasi peserta didik dalam belajar terutama bagi peserta didik di sekolah dasar. Upaya guru dalam membentuk kelompok merupakan bentuk kegiatan yang dianggap tepat untuk membantu meningkatkan aktivitas belajar peserta didik. Dengan aktivitas peserta didik dalam pembelajaran diharapkan peserta didik mampu dan menyadari bahwa dirinya mempunyai potensi yang bisa dikembangkan melalui kerja kelompok. Karena melalui aktivitas belajar tersebut peserta didik dituntut untuk berperan aktif dan disiplin yang tinggi, dan dalam aktivitas kerja kelompok diharapkan dapat tercipta situasi dan kondisi belajar yang dinamis untuk mendorong peserta didik berprestasi. Sehingga di dalam aktivitas kerja kelompok peserta didik akan menemukan bentuk-bentuk atau teori-teori belajar baru yang dianggap cocok dan pas untuk dikembangkan sesuai dengan potensinya sendiri.
Berpijak pada paparan di atas, maka diharapkan dengan menggunakan metode kerja kelompok dalam pembelajaran matematika pada pokok bahasan Menghitung luas bangun datar sederhana dan menggunakannya dalam pemecahan masalah pada peserta didik kelas V MI Nurul Iman 3 Lubuk Seberuk OKI dapat meningkat secara signifikan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan dapat dikemukakan sebagai berikut: “bagaimana meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran matematika pada pokok bahasan Menghitung luas bangun datar sederhana peserta didik kelas V MI Nurul Iman 3 Lubuk Seberuk OKI melalui metode kerja kelompok” ?

C. Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar pokok bahasan Menghitung luas bangun datar sederhana dan menggunakannya dalam pemecahan masalah peserta didik kelas V  MI Nurul Iman 3 Lubuk Seberuk OKI melalui Metode kerja kelompok.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang berarti khususnya dalam pembelajaran matematika pada jenjang MI/SD.
1. Bagi peserta didik
a. Untuk meningkatkan motivasi siswa dalam proses belajar mengajar.
b. Siswa akan lebih dapat menguasai materi yang disampaikan.
c. hasil belajar siswa lebih meningkat.
2. Bagi guru
a. Dapat menambah pengetahuan mengenai strategi pembelajaran yang bervariasi yang dapat memperbaiki dan meningkatkan sistem pembelajaran di kelas. Sehingga permasalahan yang dihadapi baik oleh peserta didik maupun guru dalam pembelajaran dapat diminimalkan.
b. Membentuk guru yang professional
3. Bagi sekolah
Memperbaiki sistem pembelajaran yang selama ini berlaku

D. Kajian Pustaka
Penelitian dan penulisan karya ilmiah yang berkaitan dengan penelitian ini antara lain : penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Rifa`i , S. Pd. I yang berjudul “Meningkatkan Motivasi dan Prestasi Belajar Siswa kelas VII MTs. Nurul Iman Lubuk Seberuk Melalui Permainan Card Sort”. Fokus dari penelitian ini adalah pembelajaran dengan menggunakan media dalam meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa di MTs. Nurul Iman Desa Lubuk Seberuk Kecamatan Lempuing Jaya Kabupaten OKI.
Kemudian penelitian yang dilakukan Untung Markuat, S. Pd. I yang berjudul “ Upaya Pemahaman siswa terhadap konsep Matematika pada penjumlahan pecahan dengan Metode Tanya Jawab” di SDN 2 Tugumulyo Kecamatan Lempuing Kabupaten Ogan Komering Ilir, ditulis pada Tahun 2009, dengan menggunakan metode Tanya jawab, Ia menyimpulkan bahwa :  “Keberanian siswa dapat ditingkatkan dengan cara memberikan kesempatan untuk mendemontrasikan suatu materi”.
Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Narko, S. Pd. I di SD Negeri 2 Tugumulyo yang berjudul ““Penggunaan Metode Demonstrasi Untuk Meningkatkan Prestasi  Siswa Dalam Mengidentifikasi Sifat-Sifat Bangun Datar Di Kelas V SD Negeri 2 Tugumulyo”. Fokus dari penelitian ini adalah penggunaan metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar siswa di SD Negeri 2 Tugumulyo Kecamatan Lempuing Kabupaten OKI.
  Sedangkan dalam penelitian ini memfokuskan pada penggunaan metode kerja kelompok dalam pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika pokok bahasan menghitung luas bangun datar sederhana di kelas V MI Nurul Iman 3 Lubuk Seberuk Lempuing Jaya OKI, jadi penelitian ini berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya.

E.     Kerangka Teori
1.    Pengertian Metode Pembelajaran
Pembelajaran merupakan kegiatan yang bertujuan, yang banyak melibatkan aktivitas siswa dan aktivitas pendidik. Untuk mencapai tujuan pembelajaran diperlukan adanya metode mengajar yang dapat dijadikan sebagai alat untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam kegiatan proses belajar mengajar seorang pendidik memerlukan penggunaan metode yang bervariatif. Pemilihan metode tersebut harus disesuaikan dengan materi dan keadaan peserta didik serta sarana dan prasarana yang mendukung.
Metode berarti cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan, metode dapat juga diartikan sebagai cara yang digunakan pendidik dalam mengadakan hubungan dengan peserta didik pada saat berlangsungnya pengajaran. Dengan demikian, metode pembelajaran merupakan alat dan wasilah untuk mengantarkan pesan yang akan disampaikan kepada peserta didik dalam proses belajar mengajar. [1]
Menurut Udin S. Winataputra Metode mengajar merupakan cara atau teknik yang digunakan pendidik dalam melakukan interaksi dengan siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung.[2]

2.    Metode Kerja Kelompok
Menurut Munjin Nasih dan Nur Kholidah metode kerja kelompok merupakan pembelajaran yang mengkondisikan kelas yang terdiri dari kesatuan individu-individu anak didik yang memiliki potensi beragam untuk bekerjasama.[3] Zakiah Daradjat memandang kerja kelompok adalah cara mengajar dengan membagi-bagi anak didik dalam kelompok-kelompok untuk memecahkan suatu masalah atau untuk menyerahkan suatu pekerjaan yang perlu dikerjakan bersama-sama. [4]
Sedangkan menurut Robert L. Cilstrap dalam Roestiyah, 2008 memberikan pengertian kerja kelompok sebagai kegiatan kelompok siswa
yang biasanya berjumlah kecil, yang diorganisir untuk kepentingan belajar.[5]
Dari pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa metode kerja kelompok adalah suatu cara mengajar dimana siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang diorganisir untuk memecahkan masalah atau pekerjaan tertentu, dan berusaha mencapai tujuan pengajaran yang telah ditentukan.



3.  Hasil belajar
Hasil belajar adalah suatu perubahan yang terjadi pada anak didik setelah terjadinya proses pembelajaran. Dalam bukunya Djamarah dan Zain menegaskan bahwa dalam menyatakan proses belajar dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan filsafatnya. Berdasarkan kurikulum suatu proses belajar mengajar dikatakan berhasil apabila tujuan intruksional khususnya dapat dicapai. Untuk mengukur dan mengevaluasi tingkat keberhasilan belajar tersebut dapat dilakukan melalui tes prestasi belajar[6]. 
Hasil belajar dapat dilihat dari melihat hasil ulangan harian, nilai ulangan tengah semester, nilai semester. Dalam penelitian tindakan kelas ini yang dimaksud hasil belajar siswa adalah hasil nilai ulangan harian yang diperoleh siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Ulangan harian minimal dilaksanakan tiga kali dalam setiap semseter. Ulangan harian dilakukan setiap selesai proses pembelajaran dalam satuan bahasan atau kompetensi tertentu.dalam ulangan harian terdiri dari seperangkat soal yang harus di jawab oleh peserta didik. tujuan ulangan harian adalah untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa, memperbaiki program pembelajaran siswa serta sebagai pertimbangan dalam nilai bagi para peserta didik.

4.    Bangun Datar
Bangun datar merupakan bangun dua dimensi. Maksudnya adalah tidak memiliki ruang hanya sebuah bidang datar saja. Jenis bangun datar bermacam-macam, antara lain persegi, persegi panjang, segitiga, jajar genjang, segi lima, layang-layang, belah ketupat, trapesium dan lingkaran.
Lingkaran adalah himpunan semua titik pada bidang dalam jarak tertentu, yang disebut jari-jari, dari suatu titik tertentu, yang disebut pusat.
Jajar Genjang adalah suatu bangun datar yang terbentuk oleh segitiga dengan bayangannya jika diputar setengah putaran pada salah satu sisi yang dimilikinya.
Persegi adalah bangun datar yang memiliki empat buah sisi sama panjang. Belah Ketupat adalah bangun datar dua dimensi yang dibentuk oleh empat buah rusuk yang sama panjang, dan memiliki dua pasang sudut bukan siku-siku yang masing-masing sama besar dengan sudut di hadapannya.
Persegi Panjang adalah bangun datar mirip bujur sangkar namun dua sisi yang berhadapan lebih pendek atau lebih panjang dari dua sisi yang lain. Dua sisi yang panjang disebut panjang, sedangkan yang pendek disebut lebar.
Layang-layang adalah bangun datar dua dimensi yang dibentuk oleh dua pasang rusuk yang masing-masing pasangannya sama panjang dan saling membentuk sudut.
Segitiga adalah nama suatu bentuk yang dibuat dari tiga sisi yang berupa garis lurus dan tiga sudut. Segilima adalah bangun datar dengan 5 sisi yang sama panjang.
Trapesium adalah bangun datar dua dimensi yang dibentuk oleh empat buah rusuk yang dua diantaranya saling sejajar namun tidak sama panjang.

F.     Metodologi Penelitian
1.    Subjek  Penelitian
Kegiatan penelitian akan dilaksanakan di MI Nurul Iman 3 Kelas V, mata pelajaran Matematika Semester II, yang akan dilaksanakan mulai tanggal 10 Februari sampai dengan 10 Juni 2011.
Dalam pembelajaran Matematika di Kelas V, hasil pembelajaran siswa belum memuaskan. Hal ini dibuktikan bahwa nilai mata pelajaran matematika siswa pada pokok bahasan Menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah masih 40 % yang belum mencapai criteria ketuntasan minimal atau KKM yaitu 5,65.
Berdasarkan pengamatan proses pembelajaran pada mata pelajaran Matematika diperoleh petunjuk dan data hasil belajar siswa masih belum dapat mencapai ketuntasan dalam belajar, yakni masih rendahnya hasil belajar yang diperoleh siswa setelah diadakan evaluasi.


2.    Deskripsi per Siklus :
Pelaksanaan kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) akan dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari 4 tahapan kegiatan yaitu : 1) Perencanaan, 2) Pelaksanaan, 3) Observasi, da 4) Refleksi.  
a.    Perencanaan
Dalam  melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) agar mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan maka perlu adanya persiapan-persiapan seperti :
1.     Membuat rencana perbaikan pembelajaran
2.     Menyiapkan media pembelajaran
3.     Membuat lembar observasi
4.     Menyiapkan alat evaluasi
b.    Pelaksanaan
Kegiatan pelaksanaan pada siklus 1 dan 2 seperti pada scenario pembelajaran dibawah ini :
1)    Kegiatan Pendahuluan (10 menit)
a)    Apersepsi dan motivasi siswa untuk membangkitkan semangat siswa dalam belajar.
b)    Membagi siswa dalam 4 kelompok, masing-masing 5 siswa.
2)    Kegiatan inti (40 menit).
a)    Menjelaskan materi pembelajaran.
b)    Menjelaskan tentang tata cara kerja kelompok
c)    Membagi LKS kepada masing-masing kelompok
d)    Membimbing kelompok dalam kerja kelompok
e)    Menilai hasil kerja kelompok
f)     Mengadakan Tanya jawab berdasarkan hasil kerja kelompok
g)    Menarik kesimpulan dan member penguatan
3)    Kegiatan penutup (20 menit)
a)    Merangkum hasil kesimpulan yang disampaikan oleh guru
b)    Review terhadap hasil pembelajaran
c)    Post tes untuk mengukur kondisi terakhir siswa setelah diberi tindakan
d)    Penugasan
c.    Pengamatan
Pada saat penelitian kelas sedang dilaksanakan maka peneliti kolaborator atau teman sejawat mengadakan observasi sebagimana tugasnya masing-masing. Adapun hal-hal yang menjadi fokus observasi adalah :
1.    Keaktifan siswa dalam kelompoknya
2.    Hasil belajar siswa setelah diadakan evaluasi.
3.    Kesesuaian skenario pembelajaran dengan pelaksanaan tindakan.
d.  Refleksi
Refleksi yang dilakukan untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan tindakan yang telah dilakukan sehingga dapat di jadikan patokan untuk perbaikan tindakan pada siklus berikutnya. Setelah diperoleh hasil refleksi dari siklus I kemudian dilanjutkan implementasi pada siklus II.

G.    Sistematika Pembahasan
Penulisan PTK ini dibagi dalam beberapa bagian, hal ini dilakukan agar mudah memahami dalam membaca PTK ini, adapun sistematika PTK ini sebagai berikut:
1. Bagian awal
Pada bagian awal PTK ini terdiri dari halaman judul, Pengesahan, Persetujuan Tim Penguji, abstrak, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, dan daftar lampiran.
2. Bagian isi
Pada bagian ini yang merupakan bagian pokok PTK terdiri dari lima bab sebagai berikut:
Bab I yaitu pendahuluan mengupas tentang latar belakang masalah, permasalahan, tujuan dan kegunaan penelitian, Kajian Pustaka, Kerangka teori, metodologi penelitian, dan sistematika pembahasan. Bab II yaitu landasan teori penelitian tentang teori-teori yang mendukung dalam pelaksanaan penelitian, kerangka pikir, dan hipotesis tindakan. Bab III yaitu tentang setting wilayah penelitian berisi tentang lokasi penelitian, subjek penelitian, dan prosedur kerja dalam penelitian.Bab IV berisi tentang hasil penelitian dan pembahasan, dan BAB V berisi Simpulan dan Saran.
3. Bagian akhir
Pada bagian ini yang merupakan bagian pendukung penulisan PTK terdiri dari daftar pustaka, dan lampiran-lampiran

H.    DAFTAR PUSTAKA
Daradjat, Zakiyah, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2008.

Harto, Kasinyo et. al, Metodologi Pembelajaran Berbasis Active Learning, Palembang: Grafika Telindo Pers. 2009.

Mulyasa, E, Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, Bandung: Rosdakarya. 2008.

Nasih, Ahmad Munjin dan Kholidah, Lilik Nur, Metode dan Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Bandung : Refika Aditama, 2009.

Roestiyah, N.K. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : Rineka Cipta, 2008

Wardani, IGAK dan Kuswaya Wirahit, Penelitian Tindakatan Kelas, Jakarta: UT PGSD, 2008.

Winataputra, Udin.S, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: UT PGSD. 2004.

Hamalik, Oemar, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta : Bumi Aksara. 2008

Jihad, Asep, Pengembangan Kurikulum Matematika, Yogyakarta : Multi Presindo, 2008



I.    Jadwal Penelitian
No
KEGIATAN
MINGGU KE……..
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Perencanaan












2
Proses pembelajaran












3
Evaluasi












4
Pengumpulan Data












5
Analisis Data












6
Penyusunan Hasil












7
Pelaporan Hasil
















[1] Kasinyo Harto dan abdurrahmansyah, Metodologi Pembelajaran Berbasis Active Learning, (Palembang: Grafika Telindo Pers. 2009), Hlm. 49-50.
[2] Udin.S Winataputra, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: UT PGSD. 2004), Hlm. 4.
[3] Ahmad Munjin Nasih dan Lilik Nur Kholidah, Metode dan Teknik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Bandung : Refika Aditama, 2009), Hlm. 73.
[4] Zakiyah Daradjat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008) Hlm. 304-305.
[5] Roestiyah, N.K. Strategi Belajar Mengajar (Jakarta : Rineka Cipta, 2008), Hlm. 15
[6] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2006), Hlm. 105