BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Perkembangan
teknologi dan komunikasi tidak hanya berdampak pada kehidupan manusia saja.
Ilmu pengetahuan juga mengalami banyak pemutakhiran. Pergeseran paradigma
pendidikan mengakibatkan semua lintas disiplin ilmu berkembang dengan pesat.
Ilmu Pengetahuan Alam merupakan salah satu disiplin ilmu yang terus berkembang.
Perkembangan tersebut sebagai upaya sadar para ahli pendidikan. Perbaikan kurikulum
Ilmu Pengetahuan Alam terus di upayakan sebagai pengaruh dari perkembangan teknologi
tersebut. Hal ini dilakukan untuk menciptkan generasi yang cerdas, tangguh, dan
mencintai lingkungan.
Ilmu
Pengetahuan Alam adalah bidang kajian tentang makhluk hidup dalam segala aspek,
lingkungan, kehidupan, populasi, dan
segala hal yang ada di sekitar kita. Pembelajaran pengetahuan alam bukan
merupakan hal yang asing, karena dapat selalu kita jumpai dalam kehidupan
disekitar kita.
Memperhatikan
bidang kajian mata pelajaran pengetahuan alam maka seharusnya pembelajaran di
sekolah-sekolah merupakan suatu kegiatan yang di senangi, dan bermakna bagi
peserta didik. Kegiatan belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai
edukatif yang mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik.
Interakasi yang bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar
diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan dalam sebelum
pengajaran dilakukan[1].
Sebagai suatu sistem interaksi edukatif mengandung sejumlah komponen yang
meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat,
sumber dan evaluasi[2]. Komponen
– komponen tersebut saling berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan
yang telah di tetapkan.
Peranan
guru sebagai pengelola pembelajaran adalah menyediakan dan menggunakan
fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar mengajar. Sedangkan tujuan
khususnya adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat
belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa bekerja dan
belajar, serta membantu siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan.[3]
Dari
uiraian diatas dapat diasumsikan bahwa mata pelajaran pengetahuan alam
mempunyai nilai yang strategis dan penting dalam mempersiapkan sumber daya
manusia yang unggul, handal, dan mencintai lingkungan.[4]
Hal yang menjadi hambatan selam ini adalah kurang dikemasnya pembelajaran
pengetahuan alam dengan metode yang menarik, menantang dan menyenangkan. Para
guru sering kali menyampaikan materi pengetahuan alam apa adanya, sehingga
pembelajaran pengetahuan alam kurang menarik minat siswa dan membosankan
sehingga pada akhirnya menjadikan prestasi siswa kurang memuaskan. Disisi lain
juga karena kecenderungan siswa untuk aktif masih rendah. Ada beberapa faktor
yang mengacu ke dalam hal tersebut yaitu : siswa kurang memiliki kemampuan
untuk merumuskan gagasan sendiri, siswa siswa kurang memiliki keberanian untuk
menyampaikan pendapat kepada orang lain, dan siswa belum biasa bersaing
menyampaikan gagasan dan pendaptnya dengan teman lain.
Pembelajaran
pengetahuan alam dianggap sebagai sesuatu yang membosankan, kurang menantang
dan tidak bermakna. Hal ini mungkin disebabkan karena kemampuan guru kurang
berdaya kreasi dalam pembelajaran, kurang dikuasainya metari-materi pengetahuan
oleh siswa, dan kurangnya variasi pengajaran.
Meningkatnya
aktivitas siswa akan lebih mengarahkan pengetahuan alam kepada hal yang lebih
bermakna. Dengan keikutsertaan siswa menyusun dan membuat perencanaan proses
belajar mengajar, adanya dorongan semangat melalui intelektual emosional siswa,
dan keikutsertaan siswa secara kreatif dalam mendengarkan dan memperhatikan apa
yang disajikan guru akan membawa pembelajaran IPA lebih berhasil.
Banyak cara agar pembelajaran pengetahuan alam
menjadi pembelajaran yang lebih bermakna, menyenangkan, dan berarti dalam
kehidupan. Salah satu cara yang cukup efektif adalah pembelajaran dengan
Strategi Jigsaw. Oleh karena itu perlu diadakan penelitian tindakan kelas untuk
membuktikan bahwa melalui pembelajaran dengan strategi jigsaw dapat
meningkatkan hasil belajar dan aktifitas siswa dalam pembelajaran Ilmu pengetahuan
alam.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan
uraian masalah diatas keadaan pembelajaran pengetahuan alam yang saat ini
terjadi adalah :
1.
Pembelajaran Ilmu pengetahuan
alam masih berjalan monoton
2.
Belum ada variasi dalam
proses pembelajaran
3.
Belum ditemukan model
pembelajaran yang lebih tepat
4.
Belum ada hubungan imbal
balik antara guru dan siswa
5.
Strategi yang digunakan
bersifat konvensional
6.
Rendahnya kualitas pembelajaran
ilmu pengetahuan alam
7. Masih
kuranya hasil belajar siswa untuk mata pelajaran ilmu pengetahuan alam.
C.
Perumusan Masalah
Bertitik tolak dari identifikasi masalah diatas, permasalah
yang dapat dirumuskan adalah :
1. Bagaimana
menerapkan pembelajaran dengan strategi Jigsaw agar dapat meningkatkan hasil
belajar siswa dalam mata pelajaran pengetahuan alam?
2. Apakah
penggunaan pembelajaran dengan strategi jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar
dan aktifitas siswa dalam pembelajaran mata pelajaran ilmu pengetahuan alam?
D. Cara Memecahkan Masalah
Metode
yang akan digunakan untuk memecahkan masalah dalam Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) ini adalah strategi jigsaw. Dengan model pembelajaran ini diharapkan
hasil belajar dan aktifitas siswa dalam pembelajaran ilmu pengetahuan alam
lebih meningkat.
E. Hipotesis Tindakan
Penelitian
ini direncanakan terbagi dalam tiga siklus, setiap siklus dilaksanakan
mengikuti prosedur, perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing),
dan refleksi (reflecting). Melalui ketiga siklus akan diamati peningkatan hasil
belajar dan aktifitas siswa. Untuk itu, hal yang dirmuskan dalam hipotesis
tindakan adalah sebagai berikut :
1. Dengan
diterapkannya model pembelajaran strategi jigsaw dapat meningkatkan hasil
belajar siswa pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam.
2. Dengan
diterapkan model pembelajaran strategi jigsaw dapat meningkatkan aktivitas siswa
dalam mata pelajaran ilmu pengetahuan alam.
F.
Tujuan Penelitian Tindakan Kelas
1.
Guru dapat meningkatkan strategi dan
kualitas dalam pembelajaran ilmu pengetahuan alam.
2. siswa merasa lebih mendapat perhatian dalam
mengungkapkan gagasan pendapat dan pertanyaan.
3.
siswa dapat bekerja secara mandiri maupun kelompok serta mempertanggung
jawabkan tugas individu maupun kelompok.
4. seluruh siswa dapat menguasai materi pelajaran
secara tuntas.
G.
Manfaat Penelitian Tindakan Kelas
Uraian manfaat dari
hasil penelitian tindakan kelas ini dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Proses
belajar mengajar pengetahuan alam tidak lagi konvensional
2. Ditemukan
strategi pembelajaran yang tepat, tidak monoton, tetapi bersifat variatif.
3. Keberanian
siswa mengungkapkan ide, pendpat, pertanyaan dan saran meningkat.
4. Keaktifan
siswa dalam mengerjakan tugas baik mandiri maupun kelompok meningkat.
5. Kualitas
pembelajaran pengetahuan alam meningkat
6. Hasil
belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam meningkat.
BAB II
KAJIAN
TEORI
A. Hakikat Strategi
Pembelajaran Jigsaw
Jigsaw pertama
kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson dan teman-teman di
Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di
Universitas John Hopkins[5] .
Strategi
mengajar Jigsaw dikembangkan oleh Aronson et. al. sebagai metode Cooperative
Learning. Strategi ini dapat digunakan dalam pengajaran membaca, menulis,
mendengarkan, ataupun berbicara.[6]
Dalam strategi
ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan
membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih
bermakna. Selain itu, siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana
gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan
meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
Pembelajaran
kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri
dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas
penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada
anggota lain dalam kelompoknya[7].
Strategi
pembelajaran Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa
belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 6 orang secara heterogen dan
bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas
ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan
materi tersebut kepada anggota kelompok yang[8].
Jigsaw
didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya
sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi
yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi
tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan demikian, “siswa saling
tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk
mempelajari materi yang ditugaskan” [9].
Para anggota
dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk diskusi (tim
ahli) saling membantu satu sama lain tentang topic pembelajaran yang ditugaskan
kepada mereka. Kemudian siswa-siswa itu kembali pada tim / kelompok asal untuk
menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain tentang apa yang telah mereka
pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli.
Pada model
pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli.
Kelompok asal yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan
kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok asal
merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli yaitu kelompok siswa yang
terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk
mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang
berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok
asal.
Hubungan antara kelompok
asal dan kelompok ahli digambarkan sebagai berikut[10]:
Kelompok Asal

Kelompok Ahli
Gambar. Ilustrasi Kelompok
Jigsaw
B.
Langkah-langkah
Strategi Pembelajaran Jigsaw
Langkah – langkah
strategi pembelajaran jigsaw adalah sebagai berikut
- Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari 4 – 6 siswa dengan kemampuan yang berbeda. Kelompok ini disebut kelompok asal. Jumlah anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dalam tipe Jigsaw ini, setiap siswa diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran tersebut. Semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli (Counterpart Group/CG). Dalam kelompok ahli, siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal. Kelompok asal ini oleh Aronson disebut kelompok Jigsaw (gigi gergaji). Misal suatu kelas dengan jumlah 40 siswa dan materi pembelajaran yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya terdiri dari 5 bagian materi pembelajaran, maka dari 40 siswa akan terdapat 5 kelompok ahli yang beranggotakan 8 siswa dan 8 kelompok asal yang terdiri dari 5 siswa. Setiap anggota kelompok ahli akan kembali ke kelompok asal memberikan informasi yang telah diperoleh atau dipelajari dalam kelompok ahli. Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik yang ada pada kelompok ahli maupun kelompok asal.

Gambar Contoh Pembentukan
Kelompok Jigsaw
- Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan.
- Guru memberikan kuis untuk siswa secara individual.
- Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya.
- Materi sebaiknya secara alami dapat dibagi menjadi beberapa bagian materi pembelajaran.
- Perlu diperhatikan bahwa jika menggunakan Jigsaw untuk belajar materi baru maka perlu dipersiapkan suatu tuntunan dan isi materi yang runtut serta cukup sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
C. Kerangka Pemecahan Masalah
Kerangka
pemecahan masalah melalui tahapan :
1. Keadaan
sekarang – diskusi pemecahan masalah – evaluasi awal
1) Pembelajaran
IPA monoton
2) Belum
ditemukan strategi yang tepat
3) Metode
konvensional
4) Rendahnya
kualitas pembelajaran IPA
5) Rendahnya
hasil pembelajaran IPA
2. Perlakuan
– penerapan strategi pembelajaran Jigsaw
1. Penjelasan
strategi pembelajaran jigsaw
2. Pelatihan
strategi pembelajaran jigsaw
3. Simulasi
strategi pembelajaran jigsaw
3. Hasil
yang diharapkan - evaluasi akhir
1. Guru
mampu menerapkan strategi pembelajaran jigsaw
2. Kulaitas
pembelajaran meningkat
3. Hasil
pemebalajatan IPA meningkat
D.
Hakikat
hasil belajar
Untuk mengatakan
suatu proses dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing-masing
sejalan dengan filsafatnya. Berdasarkan kurikulum suatu proses belajar mengajar
dikatakan berhasil apabila tujuan intruksional khususnya dapat dicapai. Untuk
mengukur dan mengevakuasi tingkat keberhasilan belajar tersebut dapat dilakukan
melalui tes prestasi belajar.
Hasil belajar dapat
dilihat dari melihat hasil ulangan harian, nilai ulangan tengah semester, nilai
semester. Dalam penelitian tindakan kelas ini yang dimaksud hasil belajar siswa
adalah hasil nilai ulangan harian yang diperoleh siswa dalam mata pelajaran
Ilmu Pengetahuan Alam. Ulangan harian minimal dilaksankan tiga dalam setiap
semseter. Ulangan harian dilakukan setiap selesai proses pembelajaran dalam
satuan bahasan atau kompetensi tertentu.dalam ulangan harian terdiri dari seperangkat
soal yang harus di jawab oleh peserta didik. tujuan ulangan harian adalah untuk
mengetahui tingkat kemampuan siswa, memperbaiki program pembelajaran siswa
serta sebagai pertimbangan dalam nilai bagi para peserta didik.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.
Setting
penelitian
Seting dalam
penelitian tindakan kelas ini meliputi : tempat penelitian, waktu penelitian,
dan siklus PTK sebagai berikut.
1. Tempat
penelitian
Penelitian tindakan kelas
ini dilaksnakan di MTs. Nurush Shomad Cahya Maju Kecamatan Lempuing Kabupaten
Ogan Komering Ilir untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Sebagai subjek
dalam penelitian ini adalah kelas VII tahun pelajaran 2009/2010 dengan jumlah
siswa sebanyak 30 orang, terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan.
Pemilihan sekolah ini bertujuan untuk
memperbaiki dan meningkatkan proses pembelajaran.
2. Waktu
Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan
pada awal tahun, yaitu bulan Mei sampai dengan Juni 2010. Penentuan waktu
penelitian mengacu pada kalender akademik sekolah, karena PTK memerlukan siklus
yang membutuhkan proses belajar mengajar efektif di kelas.
3. Siklus
PTK
PTK ini dalakasanakan
melalui tiga siklus untuk melihat peningkatan hasil belajar dan aktifitas siswa
dalam mengikuti mata pelajaran Ilmu Pengetahuan
Alam memalui pembelajaran
dengan strategi pembelajaran jigsaw.
B.
Persiapan
Penelitian tindakan kelas
Dalam
PTK ini dilaksanakan dibuat berbagai input instrumental yang akan digunakan
untuk memberi perlakuan dalam PTK yaitu rencana pembelajaran yang akan dijadikan
PTK, yaitu Kompetensi Dasar (KD) : Menentukan
ekosistem dan saling hubungan antara komponen ekosistem, Mengidentifikasi
pentingnya keanekaragaman makhluk hidup dalam pelestarian ekosistem, dan Memprediksi pengaruh kepadatan populasi
manusia terhadap lingkungan.
Selain itu juga dibuat
perangkat pembelajaran berupa : 1) Lembar Kerja Siswa, 2) lembar pengamatan
diskusi, 3) lembar evaluasi. Dalam persiapan juga akan disusun daftar nama
kelompok diskusi yang dibuat secara heterogen.
C.
Subjek
Penelitian
Dalam Penelitian
tindakan kelas ini yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas 7 yang
terdiri 30 siswa dengan jumlah laki-laki 13 dan 17
jumlah
perempuan dengan pembagian kelompok ahli dan kelompok asal sebagai berikut :![]() |
D.
Sumber Data
Sumber data dalam
penelitian ini terdiri dari beberapa sumber yaitu siswa, guru dan teman sejawat
atau kolaborator.
1.
Siswa
Untuk Mendapatkan data
tentang hasil belajar dan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar
2.
Guru
Guna melihat tingkat
keberhasilan implementasi pembelajaran dengan strategi jigsaw dan hasil belajar
serta aktivitas siswa dalam proses pembelajaran
3.
Teman
Sejawat dan Kolaborator
Teman sejawat dan
kolaborator dimaksudkan sebagai sumnber data untuk melihat implementasi
penelitian tindakan kelas secara komprehensif, baik dari sisi siswa maupun
guru.
E.
Teknik
dan Alat Pengumpulan Data
1.
Teknik
Teknik pengumpulan dat dalam
penelitian ini adalah tes, observasi, wawancara, wawancara dan diskusi.
a. Tes
: dipergunakan untuk mendapatkan data tentang hasil belajart siswa
b. Observasi
: dipergunakan untuk mengumpulkan data tentang partisipasi PBM dan implementasi
strategi pembelajaran jigsaw.
c. Wawancara
: untuk mendapatkan data tentang tingkat keberhasilan impelemntasi pembelajaran
dengan strategi jigsaw.
d. Diskusi
antara guru, teman sejawat, dan kolaborator untuk refleksi hasil siklus PTK
2.
Alat
Pengumpulan Data
Alat Pengumpul Data dalam
PTK ini meliputi tes, observasi, wawancara, kuisioner dan diskusi sebagaimana
berikut ini.
a. Tes.
Menggunakan butir soal / instrumen soal untuk megnukur hasil belajar siswa
b. Observasi
: menggunakan lembar observasi untuk mengukur tingkat partisipasi siswa dalam
proses belajar mengajar
c. Wawancara
: mengungkapkan panduan wawancara untuk mengetahui pendaat atau sikap siswa dan
teman sejawat tentang pembelajaran dengan strategi jigsaw
d. Kuisioner
: untuk mengetahui pendapat atau sikap
siswa dan teman sejawat tentang pembelajaran dengan strategi jigsaw.
e. Diskusi
: menggunakan lembar hasil pengamatan
F.
Indikator
Kinerja
Dalam PTK ini yang
akan dilihat indikator kinerjanya selain siswa adalah guru, karena guru
merupakan fasilitator yang sangat berpengaruh terhadap kinerja siswa.
1.
Siswa
a. Tes
: rata-rata nilai ulangan harian
b. Observasi
: keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar
2.
Guru
a. Dokumentasi
: kehadiran siswa
b. Observasi
: hasil observasi
G.
Analisis
Data
Data yang dikumpulkan
pada setiap kegiatan observasi dari pelaksanaan siklus penelitian tindakan
kelas dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan Teknik presentase untuk
melihat kecenderungan yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran.
1. Hasil
belajar : dengan menganalisa rata-rata nilai ulangan harian. Kemudian
dikategorikan dalam klasifikasi tinggi, sedang, dan rendah.
2. Aktivitas
siswa dalam proses belajar Ilmu Pengetahuan Alam : dengan menganalisa tingkat
keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar. Kemudian dikategorikan dalam
klasifikasi tinggi, sedang dan rendah.
3. Implementasi
pembelajaran dengan Teknik jigsaw : dengan menganalisa tingkat keberhasilan
impelementasi strategi pembelajaran jigsaw kemudian dikategorikan dalam klasifikasi
berhasil, kurang berhasil, dan tidak berhasil.
4.
H.
Prosedur
Penelitian
Prosedur Penelitian yang diterapkan dalam hal ini
antara lain :
Siklus I
Siklus pertama dalam PTK ini terdiri
dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi sebagai berikut :
1. Perencanaan (planning)
a. Tim peneliti
melakukan analisis kurikulum untuk mengetahui komptensi dasar yang akan
disampaikan kepada siswa dengan menggunakan pembelajaran strategi jigsaw.
b. Membuat
rencana pembelajaran dengan strategi jigsaw
c. Membuat
lembar kerja siswa
d. Membuat
instrumen yang digunakan dalam siklus PTK
e. Menyusun
alat evaluasi pembelajaran
2.
Pelaksanaan (Acting)
a. membagi
siswa dalam delapan kelompok
b. menyajikan
materi pelajaran
c. memberikan
materi diskusi
d. Dalam
diskusi kelompok, guru mengarahkan kelompok
e. Salah satu
dari kelompok diskusi, mempresentasikan hasil kerja kelompoknya
f. Guru
memberikan kuis atau pertanyaan
g. Siswa
diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan.
h. Penguatan
dan kesimpulan secara bersama-sama
i.
Melakukan pengamatan atau observasi
3.
Pengamatan (Observation)
a. Situasi
kegiatan belajar mengajar
b. Keaktifan
siswa
c. Kemampuan
siswa dalam diskusi kelompok
4.
Refleksi (Reflecting)
Penelitian
tindakan kelas ini berhasil apabila memenuhi beberapa syarat sebagai berikut.
a. Sebagian
besar (75% dari siswa) berani dan mampu menjawab pertanyaan dari guru
b. Sebagian
besar (70% dari siswa) berani menanggapi dan mengemukakan pendapat tentang
jawaban siswa yang lain.
c. Sebagain
besar (70% dari siswa) berani mampu untuk bertanya tentang materi pelajaran
pada hari itu
d. Lebih dari 80%
anggota kelompok aktif dalam tugas kelompoknya
e. Penyelesaian
tugas kelompok sesuai dengan waktu
Siklus II
Seperti halnya siklus pertama siklus
kedua pun terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi
1. Perencanaan (planning)
Tim peneliti
membuat rencana pelajaran berdasarkan hasil refleksi pada siklus pertama
2. Pelaksanaan (Acting)
Guru
melaksanakan pembelajaran dengan strategi jigsaw berdasarkan rencana
pembelajaran hasil refleksi siklus pertama .
3. Pengamatan (Observation)
Tim peneliti
(guru dan kolaborator) melakukan pengamatan terhadap aktifitas pembelajaran
dengan strategi jigsaw
4.
Reefleksi (reflecting)
Tim peneliti
melakukan refleksi terhadap pelaksanaan siklus kedua dan menyusun rencana
(replaining) untuk siklus ketiga.
Siklus III
Siklus ketiga merupakan putaran
ketiga dari pembelajaran dengan strategi jigsaw dengan tahapan sama seperti
pada siklus pertama dan kedua.
1. Perencanaan (planning)
Tim peneliti
membuat rencana pelajaran berdasarkan hasil refleksi pada siklus kedua.
2. Pelaksanaan (Acting)
Guru
melaksanakan pembelajaran dengan strategi pembelajaran jigsaw berdasarkan
rencana pembelajaran hasil refleksi siklus kedua .
3. Pengamatan (Observation)
Tim peneliti
(guru dan kolaborator) melakukan pengamatan terhadap aktifitas pembejaran dengan
strategi pembelajaran jigsaw
4. Reefleksi (reflecting)
Tim peneliti
melakukan refleksi terhadap pelaksanaan siklus kedua ketigadan menganalisis
untuk serta membuat kesimpulan atas pelaksanaan pembelajaran dengan strategi
pembelajaran jigsaw dalam peningkatan hasil belajar siswa dan aktivitas siswa
dalam pembelajaran IPA..
I. Kriteria Evaluasi Penelitian
1. Minat
Dalam mengevaluasi minat siswa pada kegiatan
pembelajaran Ilmu Pengetauan Alam, kriteria-kriterianya adalah sebagi berikut :
a. Perhatian
siswa dalam kelompoknya
b. Semangat
kerja dalam kelompok
c. Hubungan
dalam kelompok
d. Solidaritas
antar teman dalam kelompok
2. Partisipasi
Kriteria penilaian partisipasi siswa dalam kegiatan
pembelajaran yaitu :
a. Peran aktif
siswa dalam kelompok
b. Kerja sama
siswa dalam lelompok
c. Tanggung
jawab siswa dalam kelompok
d. Keterlibatan
dalam membuat kesimpulan
3. Presentasi
Penilaian presentasi didasarkan pada kriteria berikut
:
a. Kemampuan
menyampaikan hasil kerja kelompok
b. Keberanian
dalam menyampaikan hasil kerja
c. Keterampilan
dalam menyampaikan hasil kerja
d. Kepercayaan
diri
J. Komentar Kolabulator Teman Sejawat
Komentar yang diberikan selama pengamatan kegiatan Pembelajaran
Ilmu Pengetahuan Alam dengan menggunakan strategi Jigsaw secara garis besar
adalah :
1. Proses belajar
mengajar yang telah dilakukan sudah cukup baik terlihat adanya perubahan
mendasar antara siklus pertama, kedua, dan ketiga.
2. Kerja sama
siswa dalam kelompoknya sudah berjalan dengan lebih baik dan tepat waktu serta
kemampuan siswa dalam mempresentasikan hasil kerja lebih meningkat.
3. Aktivitas
guru dalam mempertahankan dan membimbing siswa lebih efektif.
4. Meningkatnya
nilai ulangan harian siswa setelah menggunakan strategi Jigsaw.
5. Penerapan
strategi Jigsaw pada kelompok ahli agar mendapat bimbingan yang lebih intensif
dari guru dan lebih memotivasi kerja sama antar siswa.
BAB IV
HASIL DAN
PEMBAHASAN PENELITIAN
A. Siklus Pertama (satu Pertemuan)
Dalam siklus pertama yang dilakukan dalam satu
pertemuan terdapat empat tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan, observasi dan
refleksi serta replainning, sebagaimana berikut ini.
1.
Perencanaan (planning)
a. Tim peneliti
melakukan analisis kurikulum untuk mengetahui standar kompetensi dan kompetensi
dasar yang akan disampaikan kepada siswa dengan menggunakan pembelajaran
strategi jigsaw
b. Membuat
rencana pembelajaran strategi jigsaw
c.
Membuat lembar kerja siswa
d. Membuat
instrumen yang digunakan dalam siklus PTK
e. Menyusun
alat evaluasi pembelajaran
2. Pelaksanaan (Acting)
Pada awal siklus pertama dilaksanakan masih belum
sesuai dengan perencanaan hal tersebut disebabkan karena beberapa hal, yakni :
a. Sebagian
kelompok belum terbiasa dengan kondisi belajar kelompok.
b. Sebagian
kelompok belum memahami langkah-langkah pembelajaran dengan strategi jigsaw secara
menyeluruh.
Untuk mengatasi masalah tersebut maka dilakukan upaya
perbaikan hal-hal berikut :
a. Guru dengan
intensif memberikan pemahaman kepada siswa kondisi berkelompok, cara kerja sama
kelompok, dan keikut sertaan siswa dalam kelompok.
b. Guru membantu
kelompok yang belum memahami langkah-langkah pembelajaran dengan strategi jigsaw.
Pada akhir siklus pertama dari hasil pengamatan guru
dan kolaborasi dengan teman sejawat dapat disimpulkan bahwa :
a. Siswa mulai
bisa melakukan kegiatan belajar kelompok
b. Siswa mulai
mengerti dengan pembelajaran strategi jigsaw
c. Siswa dapat
memahami bahwa strategi pembelajaran jigsaw memiliki langkah-langkah tertentu.
3. Pengamatan dan evaluasi
a. Hasil
Pengamatan pada siklus pertama tentang aktivitas siswa dalam PBM dapat dilihat
pada tabel berikut.
Tabel I
Perolehan
Skor Aktivitas Siswa dalam PBM Siklus I
Kelompok
|
Skor
|
Skor Ideal
|
Persentase (%)
|
Keterangan
|
Elang
|
8
|
12
|
67
|
|
Perkutut
|
7
|
12
|
58
|
|
Garuda
|
9
|
12
|
75
|
Tertinggi
|
Merpati
|
6
|
12
|
50
|
Terendah
|
Kutilang
|
7
|
12
|
58
|
|
Beo
|
7
|
12
|
58
|
|
Rerata
|
7
|
12
|
61
|
b. Hasil
pengamatan siklus pertama kegiatan guru dalam proses belajar mengajar
Hasil observasi guru pada siklus pertama dalam proses
belajar mengajar masih sangat rendah dengan
perolehan skor 26 atau 59,09 % sedangkan skor idealnya adalah 44. Hal ini
terjadi karena guru masih banyak duduk dan berdiri didepan kelas kurang
memberikan pengarahan dan bantuan kepada siswa sebagaimana melakukan
pembelajaran dengan strategi jigsaw.
c. Hasil
Evaluasi siklus pertama penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran
selain penguasaan guru dalam proses belajar mengajar
dengan strategi jigsaw masih rendah, penguasaan siswa terhadap materi
pembelajaran pun masih tergolong kurang. Dari skor ideal 100 rata-rata hanya
mencapai 61 atau 61 %.
Grafik I
Perolehan
Skor Aktivitas Siswa dalam PBM Siklus I

4. Refleksi dan Perencanaan Ulang (Reflecting and Replaining)
Adapun kegagalan dan keberhasilan yang terjadi pada
siklus pertama adalah sebagai berikut :
a. Guru belum
bisa menciptakan suasana yang mengarah kepada pembelajaran dengan strategi
jigsaw. Hal ini terlihat dari hasil pengamatan terhadap hasil belajar siswa
terhadap aktifitas guru dalam PBM hanya mencapai rata-rata 59 %.
b. Sebagian
siswa belum terbiasa belajar dengan menggunakan pembelajaran strategi jigsaw.mereka
terlihat antusias dalam pembelajaran.
c.
Masih ada
kelompok yang belum bisa menyelesaikan tugas dengan waktu yang
ditentukan. Hal ini disebabkan karena anggota kelompok belum belajar serius
dalam belajar.
d. Masih ada
kelompok yang kurang mampu mempresentasikan kegiatan.
Untuk memperbaiki kelamaham dan mempertahankan
keberhasilan yang telah dicapai pada siklus pertama, maka pada siklus kedua
dibuat perencanaan sebagai berikut :
1. Memberikan
motivasi kepada kelompok agar lebih aktif dalam pembelajaran
2. Lebih
intensif membimbing kelompok yang mengalami kesulitan
3. Memberikan
penghargaan kepada individu dan kelompok
B. Siklus Kedua (Dua Pertemuan)
Seperti pada siklus pertama siklus kedua ini juga
terdiri dari, perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi serta
replainning, sebagaimana berikut.
1.
Perencanaan (planning)
Planning pada siklus kedua ini sebagaimana repalining
pada siklus pertama yang meliputi :
a. Memberikan
motivasi kepada kelompok agar lebih aktif dalam pembelajaran
b. Lebih
intensif membimbing kelompok yang mengalami kesulitan
c.
Memberikan penghargaan kepada individu dan kelompok
d. Membuat
perangkat pembelajaran strategi jigsaw yang lebih mudah dipahami oleh siswa.
2. Pelaksanaan (Acting)
Pada siklus kedua ini pelaksanaan sudah mulai lebih
baik dibandingkan pada siklus pertama, yakni :
a. Suasana
pembelajaran sudah mengarah kepada pembelajaran strategi jigsaw. Tugas kelompok
yang diberikan kepada guru dengan lembar kerja mampu dikerjakan dengan baik.
Siswa sudah mampu bekerjasama dengan kelompok, siswa sudah mulai memahami peran
mereka sebagai kelompok ahli dan kelompok asal, hal ini ditunjukkan dengan
adanya diskusi dan tanya jawab dalam satu kelompok.
b. Sebagian
besar siswa merasa termotivasi untuk bertanya dan menanggapi presentasi dari
kelompok lain.
c. Suasana
pembelajaran yang efektif dan menyenangkan sudah mulai tercipta.
3. Pengamatan dan evaluasi
a. Hasil
Pengamatan pada siklus kedua tentang aktivitas siswa dalam PBM dapat dilihat
pada tabel berikut.
Tabel 2
Perolehan Skor Aktifitas siswa dalam
PBM Siklus II
Kelompok
|
Skor
|
Skor Ideal
|
Persentase (%)
|
Keterangan
|
Elang
|
9
|
12
|
75
|
|
Perkutut
|
8
|
12
|
67
|
|
Garuda
|
10
|
12
|
83
|
Tertinggi
|
Merpati
|
7
|
12
|
58
|
Terendah
|
Kutilang
|
8
|
12
|
67
|
|
Beo
|
8
|
12
|
67
|
|
Rerata
|
8
|
12
|
69
|
Grafik 2
Perolehan
Skor Aktivitas Siswa dalam PBM Siklus II

b. Hasil
pengamatan siklus kedua kegiatan guru dalam proses belajar mengajar
Hasil observasi aktivitas guru dalam proses belajar
mengajar tergolong sedang. Hal ini mengalami perbaikan dari siklus pertama, ini
dibuktikan dengan hasil skor yaitu dari skor ideal 44 diperoleh nilai 36 atau
77 %.
c. Hasil
Evaluasi siklus kedua penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran
Hasil evaluasi siswa pada siklus kedua tergolong
sedang yakni rata-rata 69 atau 69 % dari
skor ideal 100.
d. Hasil
ulangan harian kedua (setelah menggunakan pembelajaran strategi jigsaw) juga
mengalami peningkatan yang sebelumnya (belum menggunakan pembelajaran strategi
jigsaw) yaitu 5,10 menjadi 6,03 setelah dilakukanpembelajaran dengan strategi
jigsaw. Ini berarti naik 0,93.
4. Refleksi dan Perencanaan Ulang (Reflecting and Replaining)
Kerberhasilan yang diperoleh dalam proses belajar
mengajar pada siklus kedua ini adalah sebagai berikut :
a. Aktivitas
siswa dalam proses belajar mengajar sudah mengarah ke pembelajaran strategi
jigsaw. Siswa mampu menjalankan fungsinya sebagai kelompok ahli dan kelompok
asal. Siswa mampu bekerjasama dengan baik, menyelesaikan tugas tepat waktu dan
mampu mempresentasikan hasil kerja dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan
penguasaan siswa terhadap materi yaitu 69% dari skor ideal 100 pada sklus
kedua.
b. Meningkatnya
penguasaan materi oleh siswa pada proses belajar mengajar didukung oleh
meningkatnya aktivitas guru dalam mempertahankan dan meningkatkan suasana pembelajaran dengan
menggunakan strategi jigsaw. Guru intensif membimbing siswa yang memgalami
kesulitan dalam PBM, hal ini dapat dilihat dari 61 % pada siklus pertama
menjadi 69 % pada siklus kedua.
c.
Meningkatnya nilai ulangan harian dari 5,10 (ulangan
harian I) belum menggunakan strategi pembelajaran jigsaw menjadi 6,03 (ulangan
harian II) setelah menggunakan strategi pembelajaran jigsaw.
C. Siklus Ketiga (Tiga Pertemuan)
Pada siklus ketiga ini terdiri dari, perencanaan,
pelaksanaan, observasi dan refleksi, sebagaimana berikut.
1.
Perencanaan (planning)
Planning pada siklus ketiga ini sebagaimana repalining
pada siklus kedua yaitu :
a. Memberikan
motivasi kepada kelompok agar lebih aktif lagi dalam pembelajaran
b. Lebih
intensif membimbing kelompok yang mengalami kesulitan
c.
Memberikan pengakuan atau penghargaan kepada individu
dan kelompok
d. Membuat
perangkat pembelajaran strategi jigsaw yang lebih baik lagi.
1. Pelaksanaan (Acting)
a. Suasana
pembelajaran sudah mengarah kepada pembelajaran strategi jigsaw. Tugas kelompok
yang diberikan kepada guru dengan lembar kerja mampu dikerjakan dengan lebih
baik lagi. Siswa sudah mampu bekerjasama dengan kelompok, siswa sudah memahami
peran mereka sebagai kelompok ahli dan kelompok asal, hal ini ditunjukkan
dengan adanya diskusi dan tanya jawab dalam satu kelompok dan kerjasama yang
baik serta siswa lebih antusias dalam belajar.
b. Hampir
seluruh siswa termotivasi untuk bertanya dan menanggapi presentasi dari
kelompok lain.
c. Suasana
pembelajaran yang efektif dan menyenangkan sudah lebih tercipta.
2. Pengamatan dan evaluasi
a. Hasil
obsrvasi aktivitas siswa dalam PBM pada siklus ketiga dapat dilihat pada tabel
dibawah ini.
Tabel 3
Perolehan Skor Aktivitas Siswa dalam
PBM Siklus III
KELOMPOK
|
SKOR
|
SKOR IDEAL
|
PERSENTASE (%)
|
KETERANGAN
|
Elang
|
10
|
12
|
83
|
|
Perkutut
|
9
|
12
|
75
|
|
Garuda
|
11
|
12
|
92
|
Tertinggi
|
Merpati
|
8
|
12
|
67
|
Terendah
|
Kutilang
|
9
|
12
|
75
|
|
Beo
|
9
|
12
|
75
|
|
Rerata
|
9
|
12
|
78
|
Grafik 3
Perolehan Skor Aktifitas Siswa dalam PBM Siklus III

b. Hasil
observasi aktivitas guru dalam proses belajar mengajar mendapat nilai rerata 38
dari skor 44 atau 86 %. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan yang sangat
signifikan.
c.
Pada siklus ketiga ini hasil evaluasi penguasaan siswa
terhadap materi pembelajaran juga mengalami perubahan yang sangat signifikan
yakni rata-rata 78 atau 78 % dari skor ideal 100. Hal ini menunjukkan hasil
penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran tergolong tinggi.
d. Hasil
ulangan harian ketiga (setelah menggunakan strategi jigsaw dalam pembelajaran).
Mengalami peningkatan yang cukup berarti yakni, 7,08,
sedangkan
sebelumnya 5,10 dan pada siklus kedua 6,03.
3. Refleksi (Reflecting)
Kerberhasilan yang diperoleh dalam proses belajar
mengajar selama siklus ketiga ini adalah sebagai berikut :
a. Aktivitas
siswa dalam proses belajar mengajar sudah mengarah ke pembelajaran strategi
jigsaw secara lebih baik. Siswa sudah lebih baik menjalankan fungsinya sebagai
kelompok ahli dan kelompok asal. Siswa mampu bekerjasama dengan lebih baik,
menyelesaikan tugas tepat waktu dan mampu mempresentasikan hasil kerja dengan
lebih baik. Hal ini dibuktikan dari pengamatan terhadap penguasaan siswa
terhadap materi pembelajaran pada siklus kedua 69% menjadi 78 % pada siklus
ketiga.
b. Meningkatnya
penguasaan materi oleh siswa pada proses belajar mengajar didukung oleh
meningkatnya aktivitas guru dalam mempertahankan dan meningkatkan suasana pembelajaran dengan
menggunakan strategi jigsaw. Guru intensif membimbing siswa terutama siswa yang
memgalami kesulitan dalam PBM, hal ini dapat dilihat dari observasi terhadap
aktivitas guru dalam PBM meningkat dari 77 % pada siklus kedua menjadi 86 %
pada siklus ketiga..
c.
Meningkatnya nilai ulangan harian dari 5,10 (ulangan
harian I) belum menggunakan strategi pembelajaran jigsaw menjadi 6,03 (ulangan
harian II0 setelah menggunakan strategi pembelajaran jigsaw dan 7,08 (ulangan
harian III) setelah menggunakan pembelajaran dengan strategi jigsaw.
BAB V
PENUTUP
A. SIMPULAN
Berdasarkan uraian dan penelitian Tindakan Kelas dapat
disipulkan hal-hal sebagai berikut :
1. Pembelajaran
dengan menggunakan strategi pembelajaran jigsaw dapat meningkatkan aktivitas
dan hasil belajar siswa pada proses belajar mengajar.
2. Dari hasil
observasi memperlihatkan terjadi peningkatan pada aktivitas siswa dan hasil
belajarnya pada siklus pertama hanya rata-rata 61 % Nilai ulangan Harian 5,10
menjadi 69 % Nilai Ulangan harian menjadi 6, 03 pada siklus kedua dan 78 %
Nilai Ulangan Harian 7,08 pada siklus ketiga.
3. Aktivitas
kelompok mencapai kesempurnaan setelah
siklus ketiga. Hal ini dapat dilihat dari aktivitas siswa mencapai 78 %.
4. Pembelajaran
dengan strategi pembelajaran Jigsaw relevan dengan pembelajaran kontekstual.
5. Melalui
pembelajaran dengan strategi jigsaw siswa membangun sendiri pengetahuannya,
menemukan langkah-langkah dalam mencari penyelesaiansuatu masalah baik secara
individu maupun kelompok.
B. SARAN
Telah
terbuktinya pembelajaran dengan mengunnakan strategi jigsaw dapat meningkatkan
aktivitas dan hasil belajar dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam maka
kami sarankan agar dalam kegiatan pembelajaran guru menerapkan strategi
pembelajaran jigsaw sebagai suatu alternatif dalam mata pelajaran Ilmu
Pengetahuan Alam serta diharapkan kegiatan Penelitian Tindakan Kelas ini dapat
dilakukan secara berkesinambungan pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
dan Mata pelajaran lainnya karena memberi manfaat kepada guru dan sisswa.
DAFTAR PUSTAKA
Djamarah,
Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. 2008. Strategi
Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Harto,
Kasinyo, & Abdurrahmansyah, , 2009. Metodologi
Pembelajaran Berbasis Active Learning, Palembang : Grafika Telindo
Kunandar,
2010, Langkah Mudah Penelitian Tindakan
Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada
Lie,
Anita. 2007. Cooperative Learning.
Jakarta : Grasindo.
Nasih, Ahmad
Munjin, & Kholidah, Lilik Nur, 2009.
Metode Strategi Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam. Bandung : PT Refika Mandiri.
[1] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain Strategi Belajar Mengajar (Jakarta : Rineka
Cipta, 2006) h. 1
[2] Ibid
h. 16
[3] Hamzah B. Uno Profesi Kependidikan (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2009) h. 22
[4] Harto, Kasinyo &
Abdurrahmansyah, Metodologi Pembelajaran Berbasis Active Learning (Palembang
; Grafika Telindo, 2009)
[5] Anita Lie Cooperative Learning (Jakarta : PT
Grassindo, 2007) h. 5
[7] Anita Lie Op Cit
h. 8
[8] Ibid h. 10
[9] Ibid h. 15






