Tuesday, March 8, 2016

METODE RESITASI

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang Masalah
Perkembangan teknologi dan komunikasi tidak hanya berdampak pada kehidupan manusia saja. Ilmu pengetahuan juga mengalami banyak pemutakhiran. Pergeseran paradigma pendidikan mengakibatkan semua lintas disiplin ilmu berkembang dengan pesat. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan salah satu disiplin ilmu yang terus berkembang. Perkembangan tersebut sebagai upaya sadar para ahli pendidikan. Perbaikan kurikulum Ilmu Pengetahuan Alam terus di upayakan sebagai pengaruh dari perkembangan teknologi tersebut. Hal ini dilakukan untuk menciptkan generasi yang cerdas, tangguh, dan mencintai lingkungan.
Ilmu Pengetahuan Alam adalah bidang kajian tentang makhluk hidup dalam segala aspek, lingkungan, kehidupan, populasi, dan segala hal yang ada di sekitar kita. Pembelajaran pengetahuan alam bukan merupakan hal yang asing, karena dapat selalu kita jumpai dalam kehidupan disekitar kita.
Memperhatikan bidang kajian mata pelajaran pengetahuan alam maka seharusnya pembelajaran di sekolah-sekolah merupakan suatu kegiatan yang di senangi, dan bermakna bagi peserta didik. Kegiatan belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif yang mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik. Interakasi yang bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan dalam sebelum pengajaran dilakukan[1]. Sebagai suatu sistem interaksi edukatif mengandung sejumlah komponen yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat, sumber dan evaluasi[2]. Komponen – komponen tersebut saling berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan yang telah di tetapkan.
Peranan guru sebagai pengelola pembelajaran adalah menyediakan dan menggunakan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar mengajar. Sedangkan tujuan khususnya adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan siswa bekerja dan belajar, serta membantu siswa untuk memperoleh hasil yang diharapkan.[3]
Dari uiraian diatas dapat diasumsikan bahwa mata pelajaran pengetahuan alam mempunyai nilai yang strategis dan penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul, handal, dan mencintai lingkungan.[4] Hal yang menjadi hambatan selam ini adalah kurang dikemasnya pembelajaran pengetahuan alam dengan metode yang menarik, menantang dan menyenangkan. Para guru sering kali menyampaikan materi pengetahuan alam apa adanya, sehingga pembelajaran pengetahuan alam kurang menarik minat siswa dan membosankan sehingga pada akhirnya menjadikan prestasi siswa kurang memuaskan. Disisi lain juga karena kecenderungan siswa untuk aktif masih rendah. Ada beberapa faktor yang mengacu ke dalam hal tersebut yaitu : siswa kurang memiliki kemampuan untuk merumuskan gagasan sendiri, siswa siswa kurang memiliki keberanian untuk menyampaikan pendapat kepada orang lain, dan siswa belum biasa bersaing menyampaikan gagasan dan pendaptnya dengan teman lain.
Pembelajaran pengetahuan alam dianggap sebagai sesuatu yang membosankan, kurang menantang dan tidak bermakna. Hal ini mungkin disebabkan karena kemampuan guru kurang berdaya kreasi dalam pembelajaran, kurang dikuasainya metari-materi pengetahuan oleh siswa, dan kurangnya variasi pengajaran.
Meningkatnya aktivitas siswa akan lebih mengarahkan pengetahuan alam kepada hal yang lebih bermakna. Dengan keikutsertaan siswa menyusun dan membuat perencanaan proses belajar mengajar, adanya dorongan semangat melalui intelektual emosional siswa, dan keikutsertaan siswa secara kreatif dalam mendengarkan dan memperhatikan apa yang disajikan guru akan membawa pembelajaran IPA lebih berhasil.
Banyak  cara agar pembelajaran pengetahuan alam menjadi pembelajaran yang lebih bermakna, menyenangkan, dan berarti dalam kehidupan. Salah satu cara yang cukup efektif adalah pembelajaran dengan Strategi Jigsaw. Oleh karena itu perlu diadakan penelitian tindakan kelas untuk membuktikan bahwa melalui pembelajaran dengan strategi jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar dan aktifitas siswa dalam pembelajaran Ilmu pengetahuan alam.


B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian masalah diatas keadaan pembelajaran pengetahuan alam yang saat ini terjadi adalah :
1.    Pembelajaran Ilmu pengetahuan alam masih berjalan monoton
2.    Belum ada variasi dalam proses pembelajaran
3.    Belum ditemukan model pembelajaran yang lebih tepat
4.    Belum ada hubungan imbal balik antara guru dan siswa
5.    Strategi yang digunakan bersifat konvensional
6.    Rendahnya kualitas pembelajaran ilmu pengetahuan alam
7.    Masih kuranya hasil belajar siswa untuk mata pelajaran ilmu pengetahuan alam.

C. Perumusan Masalah
Bertitik tolak  dari identifikasi masalah diatas, permasalah yang dapat dirumuskan adalah :
1.    Bagaimana menerapkan pembelajaran dengan strategi Jigsaw agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran pengetahuan alam?
2.    Apakah penggunaan pembelajaran dengan strategi jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar dan aktifitas siswa dalam pembelajaran mata pelajaran ilmu pengetahuan alam?


D. Cara Memecahkan Masalah
Metode yang akan digunakan untuk memecahkan masalah dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah strategi jigsaw. Dengan model pembelajaran ini diharapkan hasil belajar dan aktifitas siswa dalam pembelajaran ilmu pengetahuan alam lebih meningkat.

E. Hipotesis Tindakan
Penelitian ini direncanakan terbagi dalam tiga siklus, setiap siklus dilaksanakan mengikuti prosedur, perencanaan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Melalui ketiga siklus akan diamati peningkatan hasil belajar dan aktifitas siswa. Untuk itu, hal yang dirmuskan dalam hipotesis tindakan adalah sebagai berikut :
1.    Dengan diterapkannya model pembelajaran strategi jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam.
2.    Dengan diterapkan model pembelajaran strategi  jigsaw dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam mata pelajaran ilmu pengetahuan alam.

F. Tujuan Penelitian Tindakan Kelas
1. Guru dapat meningkatkan strategi dan kualitas dalam pembelajaran ilmu pengetahuan alam.
2.  siswa merasa lebih mendapat perhatian dalam mengungkapkan gagasan pendapat dan pertanyaan.
3. siswa dapat bekerja secara mandiri maupun kelompok serta mempertanggung jawabkan tugas individu maupun kelompok.
4.  seluruh siswa dapat menguasai materi pelajaran secara tuntas.

G. Manfaat Penelitian Tindakan Kelas
Uraian manfaat dari hasil penelitian tindakan kelas ini dapat diuraikan sebagai berikut :
1.  Proses belajar mengajar pengetahuan alam tidak lagi konvensional
2.  Ditemukan strategi pembelajaran yang tepat, tidak monoton, tetapi bersifat variatif.
3.  Keberanian siswa mengungkapkan ide, pendpat, pertanyaan dan saran meningkat.
4.  Keaktifan siswa dalam mengerjakan tugas baik mandiri maupun kelompok meningkat.
5.  Kualitas pembelajaran pengetahuan alam meningkat
6.  Hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam meningkat.















BAB II
KAJIAN TEORI

A.  Hakikat Strategi Pembelajaran Jigsaw
Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson dan teman-teman di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins[5] .
Strategi mengajar Jigsaw dikembangkan oleh Aronson et. al. sebagai metode Cooperative Learning. Strategi ini dapat digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun berbicara.[6]
Dalam strategi ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya[7].
Strategi pembelajaran Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang[8].
Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan demikian, “siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan” [9].
Para anggota dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk diskusi (tim ahli) saling membantu satu sama lain tentang topic pembelajaran yang ditugaskan kepada mereka. Kemudian siswa-siswa itu kembali pada tim / kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain tentang apa yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli.
Pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal.
Hubungan antara kelompok asal dan kelompok ahli digambarkan sebagai berikut[10]:
Kelompok Asal
Description: Cooperative Learning1
Kelompok Ahli
Gambar. Ilustrasi Kelompok Jigsaw
B.   Langkah-langkah Strategi Pembelajaran Jigsaw
Langkah – langkah strategi pembelajaran jigsaw adalah sebagai berikut
  • Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari 4 – 6 siswa dengan kemampuan yang berbeda. Kelompok ini disebut kelompok asal. Jumlah anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dalam tipe Jigsaw ini, setiap siswa diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran tersebut. Semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli (Counterpart Group/CG). Dalam kelompok ahli, siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal. Kelompok asal ini oleh Aronson disebut kelompok Jigsaw (gigi gergaji). Misal suatu kelas dengan jumlah 40 siswa dan materi pembelajaran yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya terdiri dari 5 bagian materi pembelajaran, maka dari 40 siswa akan terdapat 5 kelompok ahli yang beranggotakan 8 siswa dan 8 kelompok asal yang terdiri dari 5 siswa. Setiap anggota kelompok ahli akan kembali ke kelompok asal memberikan informasi yang telah diperoleh atau dipelajari dalam kelompok ahli. Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik yang ada pada kelompok ahli maupun kelompok asal.
Description: Cooperative Learning2
Gambar Contoh Pembentukan Kelompok Jigsaw
  • Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan.
  • Guru memberikan kuis untuk siswa secara individual.
  • Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya.
  • Materi sebaiknya secara alami dapat dibagi menjadi beberapa bagian materi pembelajaran.
  • Perlu diperhatikan bahwa jika menggunakan Jigsaw untuk belajar materi baru maka perlu dipersiapkan suatu tuntunan dan isi materi yang runtut serta cukup sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
C. Kerangka Pemecahan Masalah
Kerangka pemecahan masalah melalui tahapan :
1.    Keadaan sekarang – diskusi pemecahan masalah – evaluasi awal
1)    Pembelajaran IPA monoton
2)    Belum ditemukan strategi yang tepat
3)    Metode konvensional
4)    Rendahnya kualitas pembelajaran IPA
5)    Rendahnya hasil pembelajaran IPA
2.    Perlakuan – penerapan strategi pembelajaran Jigsaw
1.    Penjelasan strategi pembelajaran jigsaw
2.    Pelatihan strategi pembelajaran jigsaw
3.    Simulasi strategi pembelajaran jigsaw

3.    Hasil yang diharapkan -  evaluasi akhir
1.    Guru mampu menerapkan strategi pembelajaran jigsaw
2.    Kulaitas pembelajaran meningkat
3.    Hasil pemebalajatan IPA meningkat

D.   Hakikat hasil belajar
Untuk mengatakan suatu proses dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan filsafatnya. Berdasarkan kurikulum suatu proses belajar mengajar dikatakan berhasil apabila tujuan intruksional khususnya dapat dicapai. Untuk mengukur dan mengevakuasi tingkat keberhasilan belajar tersebut dapat dilakukan melalui tes prestasi belajar.
Hasil belajar dapat dilihat dari melihat hasil ulangan harian, nilai ulangan tengah semester, nilai semester. Dalam penelitian tindakan kelas ini yang dimaksud hasil belajar siswa adalah hasil nilai ulangan harian yang diperoleh siswa dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Ulangan harian minimal dilaksankan tiga dalam setiap semseter. Ulangan harian dilakukan setiap selesai proses pembelajaran dalam satuan bahasan atau kompetensi tertentu.dalam ulangan harian terdiri dari seperangkat soal yang harus di jawab oleh peserta didik. tujuan ulangan harian adalah untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa, memperbaiki program pembelajaran siswa serta sebagai pertimbangan dalam nilai bagi para peserta didik.





BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.      Setting penelitian
Seting dalam penelitian tindakan kelas ini meliputi : tempat penelitian, waktu penelitian, dan siklus PTK sebagai berikut.
1.    Tempat penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksnakan di MTs. Nurush Shomad Cahya Maju Kecamatan Lempuing Kabupaten Ogan Komering Ilir untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Sebagai subjek dalam penelitian ini adalah kelas VII tahun pelajaran 2009/2010 dengan jumlah siswa sebanyak 30 orang, terdiri dari 13 siswa laki-laki dan 17 siswa perempuan.
Pemilihan sekolah ini bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan proses pembelajaran.
2.    Waktu Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan pada awal tahun, yaitu bulan Mei sampai dengan Juni 2010. Penentuan waktu penelitian mengacu pada kalender akademik sekolah, karena PTK memerlukan siklus yang membutuhkan proses belajar mengajar efektif di kelas.


3.    Siklus PTK
PTK ini dalakasanakan melalui tiga siklus untuk melihat peningkatan hasil belajar dan aktifitas siswa dalam mengikuti mata pelajaran Ilmu Pengetahuan
Alam memalui pembelajaran dengan strategi pembelajaran jigsaw.

B.  Persiapan Penelitian tindakan kelas
Dalam PTK ini dilaksanakan dibuat berbagai input instrumental yang akan digunakan untuk memberi perlakuan dalam PTK yaitu rencana pembelajaran yang akan dijadikan PTK, yaitu Kompetensi Dasar (KD) : Menentukan ekosistem dan saling hubungan antara komponen ekosistem, Mengidentifikasi pentingnya keanekaragaman makhluk hidup dalam pelestarian ekosistem, dan  Memprediksi pengaruh kepadatan populasi manusia terhadap lingkungan.
Selain itu juga dibuat perangkat pembelajaran berupa : 1) Lembar Kerja Siswa, 2) lembar pengamatan diskusi, 3) lembar evaluasi. Dalam persiapan juga akan disusun daftar nama kelompok diskusi yang dibuat secara heterogen.
C.      Subjek Penelitian
Dalam Penelitian tindakan kelas ini yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas 7 yang terdiri 30 siswa dengan jumlah laki-laki 13 dan 17

jumlah perempuan dengan pembagian kelompok ahli dan kelompok asal sebagai berikut :



 






D.       Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari beberapa sumber yaitu siswa, guru dan teman sejawat atau kolaborator.

1.    Siswa
Untuk Mendapatkan data tentang hasil belajar dan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar
2.    Guru
Guna melihat tingkat keberhasilan implementasi pembelajaran dengan strategi jigsaw dan hasil belajar serta aktivitas siswa dalam proses pembelajaran


3.    Teman Sejawat dan Kolaborator
Teman sejawat dan kolaborator dimaksudkan sebagai sumnber data untuk melihat implementasi penelitian tindakan kelas secara komprehensif, baik dari sisi siswa maupun guru.

E.       Teknik dan Alat Pengumpulan Data
1.    Teknik
Teknik pengumpulan dat dalam penelitian ini adalah tes, observasi, wawancara, wawancara dan diskusi.
a.    Tes : dipergunakan untuk mendapatkan data tentang hasil belajart siswa
b.    Observasi : dipergunakan untuk mengumpulkan data tentang partisipasi PBM dan implementasi strategi pembelajaran jigsaw.
c.    Wawancara : untuk mendapatkan data tentang tingkat keberhasilan impelemntasi pembelajaran dengan strategi jigsaw.
d.    Diskusi antara guru, teman sejawat, dan kolaborator untuk refleksi hasil siklus PTK

2.    Alat Pengumpulan Data
Alat Pengumpul Data dalam PTK ini meliputi tes, observasi, wawancara, kuisioner dan diskusi sebagaimana berikut ini.
a.    Tes. Menggunakan butir soal / instrumen soal untuk megnukur hasil belajar siswa
b.    Observasi : menggunakan lembar observasi untuk mengukur tingkat partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar
c.    Wawancara : mengungkapkan panduan wawancara untuk mengetahui pendaat atau sikap siswa dan teman sejawat tentang pembelajaran dengan strategi jigsaw
d.    Kuisioner : untuk mengetahui  pendapat atau sikap siswa dan teman sejawat tentang pembelajaran dengan strategi jigsaw.
e.    Diskusi : menggunakan lembar hasil pengamatan


F.       Indikator Kinerja
Dalam PTK ini yang akan dilihat indikator kinerjanya selain siswa adalah guru, karena guru merupakan fasilitator yang sangat berpengaruh terhadap kinerja siswa.
1.    Siswa
a.    Tes : rata-rata nilai ulangan harian
b.    Observasi : keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar
2.    Guru
a.    Dokumentasi : kehadiran siswa
b.    Observasi : hasil observasi
G.      Analisis Data
Data yang dikumpulkan pada setiap kegiatan observasi dari pelaksanaan siklus penelitian tindakan kelas dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan Teknik presentase untuk melihat kecenderungan yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran.
1.    Hasil belajar : dengan menganalisa rata-rata nilai ulangan harian. Kemudian dikategorikan dalam klasifikasi tinggi, sedang, dan rendah.
2.    Aktivitas siswa dalam proses belajar Ilmu Pengetahuan Alam : dengan menganalisa tingkat keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar. Kemudian dikategorikan dalam klasifikasi tinggi, sedang dan rendah.
3.    Implementasi pembelajaran dengan Teknik jigsaw : dengan menganalisa tingkat keberhasilan impelementasi strategi pembelajaran jigsaw kemudian dikategorikan dalam klasifikasi berhasil, kurang berhasil, dan tidak berhasil.
4.     
H.      Prosedur Penelitian
Prosedur  Penelitian yang diterapkan dalam hal ini antara lain :
Siklus I
Siklus pertama dalam PTK ini terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi sebagai berikut :
1.    Perencanaan (planning)
a.    Tim peneliti melakukan analisis kurikulum untuk mengetahui komptensi dasar yang akan disampaikan kepada siswa dengan menggunakan pembelajaran strategi jigsaw.
b.    Membuat rencana pembelajaran dengan strategi jigsaw
c.    Membuat lembar kerja siswa
d.    Membuat instrumen yang digunakan dalam siklus PTK
e.    Menyusun alat evaluasi pembelajaran
2.    Pelaksanaan (Acting)
a.    membagi siswa dalam delapan kelompok
b.    menyajikan materi pelajaran
c.    memberikan materi diskusi
d.    Dalam diskusi kelompok, guru mengarahkan kelompok
e.    Salah satu dari kelompok diskusi, mempresentasikan hasil kerja kelompoknya
f.     Guru memberikan kuis atau pertanyaan
g.    Siswa diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan.
h.    Penguatan dan kesimpulan secara bersama-sama
i.      Melakukan pengamatan atau observasi
3.    Pengamatan (Observation)
a.    Situasi kegiatan belajar mengajar
b.    Keaktifan siswa
c.    Kemampuan siswa dalam diskusi kelompok
4.    Refleksi (Reflecting)
Penelitian tindakan kelas ini berhasil apabila memenuhi beberapa syarat sebagai berikut.
a.    Sebagian besar (75% dari siswa) berani dan mampu menjawab pertanyaan dari guru
b.    Sebagian besar (70% dari siswa) berani menanggapi dan mengemukakan pendapat tentang jawaban siswa yang lain.
c.    Sebagain besar (70% dari siswa) berani mampu untuk bertanya tentang materi pelajaran pada hari itu
d.    Lebih dari 80% anggota kelompok aktif dalam tugas kelompoknya
e.    Penyelesaian tugas kelompok sesuai dengan waktu
Siklus II
Seperti halnya siklus pertama siklus kedua pun terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi
1.    Perencanaan (planning)
Tim peneliti membuat rencana pelajaran berdasarkan hasil refleksi pada siklus pertama


2.    Pelaksanaan (Acting)
Guru melaksanakan pembelajaran dengan strategi jigsaw berdasarkan rencana pembelajaran hasil refleksi siklus pertama .
3.    Pengamatan (Observation)
Tim peneliti (guru dan kolaborator) melakukan pengamatan terhadap aktifitas pembelajaran dengan strategi jigsaw

4.    Reefleksi (reflecting) 
Tim peneliti melakukan refleksi terhadap pelaksanaan siklus kedua dan menyusun rencana (replaining)  untuk siklus ketiga.
Siklus III
Siklus ketiga merupakan putaran ketiga dari pembelajaran dengan strategi jigsaw dengan tahapan sama seperti pada siklus pertama dan kedua.
1.     Perencanaan (planning)
Tim peneliti membuat rencana pelajaran berdasarkan hasil refleksi pada siklus kedua.

2.     Pelaksanaan (Acting)
Guru melaksanakan pembelajaran dengan strategi pembelajaran jigsaw berdasarkan rencana pembelajaran hasil refleksi siklus kedua .
3.     Pengamatan (Observation)
Tim peneliti (guru dan kolaborator) melakukan pengamatan terhadap aktifitas pembejaran dengan strategi pembelajaran jigsaw
4.     Reefleksi (reflecting) 
Tim peneliti melakukan refleksi terhadap pelaksanaan siklus kedua ketigadan menganalisis untuk serta membuat kesimpulan atas pelaksanaan pembelajaran dengan strategi pembelajaran jigsaw dalam peningkatan hasil belajar siswa dan aktivitas siswa dalam pembelajaran IPA..

I.       Kriteria Evaluasi Penelitian
1.     Minat
Dalam mengevaluasi minat siswa pada kegiatan pembelajaran Ilmu Pengetauan Alam, kriteria-kriterianya adalah sebagi berikut :
a.  Perhatian siswa dalam kelompoknya
b.  Semangat kerja dalam kelompok
c.   Hubungan dalam kelompok
d.  Solidaritas antar teman dalam kelompok

2.     Partisipasi
Kriteria penilaian partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran yaitu :
a.  Peran aktif siswa dalam kelompok
b.  Kerja sama siswa dalam lelompok
c.   Tanggung jawab siswa dalam kelompok
d.  Keterlibatan dalam membuat kesimpulan

3.     Presentasi
Penilaian presentasi didasarkan pada kriteria berikut :
a.  Kemampuan menyampaikan hasil kerja kelompok
b.  Keberanian dalam menyampaikan hasil kerja
c.   Keterampilan dalam menyampaikan hasil kerja
d.  Kepercayaan diri

J.      Komentar Kolabulator Teman Sejawat
Komentar yang diberikan selama pengamatan kegiatan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dengan menggunakan strategi Jigsaw secara garis besar adalah :
1.  Proses belajar mengajar yang telah dilakukan sudah cukup baik terlihat adanya perubahan mendasar antara siklus pertama, kedua, dan ketiga.
2.  Kerja sama siswa dalam kelompoknya sudah berjalan dengan lebih baik dan tepat waktu serta kemampuan siswa dalam mempresentasikan hasil kerja lebih meningkat.
3.  Aktivitas guru dalam mempertahankan dan membimbing siswa lebih efektif.
4.  Meningkatnya nilai ulangan harian siswa setelah menggunakan strategi Jigsaw.
5.  Penerapan strategi Jigsaw pada kelompok ahli agar mendapat bimbingan yang lebih intensif dari guru dan lebih memotivasi kerja sama antar siswa.


















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

A.  Siklus Pertama (satu Pertemuan)
Dalam siklus pertama yang dilakukan dalam satu pertemuan terdapat empat tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi serta replainning, sebagaimana berikut ini.

1.    Perencanaan (planning)
a.     Tim peneliti melakukan analisis kurikulum untuk mengetahui standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan disampaikan kepada siswa dengan menggunakan pembelajaran strategi jigsaw
b.     Membuat rencana pembelajaran strategi jigsaw
c.      Membuat lembar kerja siswa
d.     Membuat instrumen yang digunakan dalam siklus PTK
e.     Menyusun alat evaluasi pembelajaran
2.    Pelaksanaan (Acting)
Pada awal siklus pertama dilaksanakan masih belum sesuai dengan perencanaan hal tersebut disebabkan karena beberapa hal, yakni :
a.    Sebagian kelompok belum terbiasa dengan kondisi belajar kelompok.
b.    Sebagian kelompok belum memahami langkah-langkah pembelajaran dengan strategi jigsaw secara menyeluruh.
Untuk mengatasi masalah tersebut maka dilakukan upaya perbaikan hal-hal berikut :
a. Guru dengan intensif memberikan pemahaman kepada siswa kondisi berkelompok, cara kerja sama kelompok, dan keikut sertaan siswa dalam kelompok.
b.  Guru membantu kelompok yang belum memahami langkah-langkah pembelajaran dengan strategi  jigsaw.
Pada akhir siklus pertama dari hasil pengamatan guru dan kolaborasi dengan teman sejawat dapat disimpulkan bahwa :
a.  Siswa mulai bisa melakukan kegiatan belajar kelompok
b.  Siswa mulai mengerti dengan pembelajaran strategi jigsaw
c.   Siswa dapat memahami bahwa strategi pembelajaran jigsaw memiliki langkah-langkah tertentu.
3.    Pengamatan dan evaluasi
a.     Hasil Pengamatan pada siklus pertama tentang aktivitas siswa dalam PBM dapat dilihat pada tabel berikut.



Tabel I
Perolehan Skor Aktivitas Siswa dalam PBM Siklus I
Kelompok
Skor
Skor Ideal
Persentase (%)
Keterangan
Elang
8
12
67

Perkutut
7
12
58

Garuda
9
12
75
Tertinggi
Merpati
6
12
50
Terendah
Kutilang
7
12
58

Beo
7
12
58

Rerata
7
12
61


b.     Hasil pengamatan siklus pertama kegiatan guru dalam proses belajar mengajar
Hasil observasi guru pada siklus pertama dalam proses belajar mengajar masih sangat rendah   dengan perolehan skor 26 atau 59,09 % sedangkan skor idealnya adalah 44. Hal ini terjadi karena guru masih banyak duduk dan berdiri didepan kelas kurang memberikan pengarahan dan bantuan kepada siswa sebagaimana melakukan pembelajaran dengan strategi jigsaw.
c.    Hasil Evaluasi siklus pertama penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran
selain penguasaan guru dalam proses belajar mengajar dengan strategi jigsaw masih rendah, penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran pun masih tergolong kurang. Dari skor ideal 100 rata-rata hanya mencapai 61 atau 61 %.

Grafik I
Perolehan Skor Aktivitas  Siswa dalam PBM Siklus I
4.    Refleksi dan Perencanaan Ulang (Reflecting and Replaining)
Adapun kegagalan dan keberhasilan yang terjadi pada siklus pertama adalah sebagai berikut :
a.     Guru belum bisa menciptakan suasana yang mengarah kepada pembelajaran dengan strategi jigsaw. Hal ini terlihat dari hasil pengamatan terhadap hasil belajar siswa terhadap aktifitas guru dalam PBM hanya mencapai rata-rata 59 %.
b.     Sebagian siswa belum terbiasa belajar dengan menggunakan pembelajaran strategi jigsaw.mereka terlihat antusias dalam pembelajaran.
c.      Masih ada  kelompok yang belum bisa menyelesaikan tugas dengan waktu yang ditentukan. Hal ini disebabkan karena anggota kelompok belum belajar serius
dalam  belajar.
d.     Masih ada kelompok yang kurang mampu mempresentasikan kegiatan.
Untuk memperbaiki kelamaham dan mempertahankan keberhasilan yang telah dicapai pada siklus pertama, maka pada siklus kedua dibuat perencanaan sebagai berikut :
1.    Memberikan motivasi kepada kelompok agar lebih aktif dalam pembelajaran
2.    Lebih intensif membimbing kelompok yang mengalami kesulitan
3.    Memberikan penghargaan kepada individu dan kelompok



B.   Siklus Kedua (Dua Pertemuan)
Seperti pada siklus pertama siklus kedua ini juga terdiri dari, perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi serta replainning, sebagaimana berikut.
1.    Perencanaan (planning)
Planning pada siklus kedua ini sebagaimana repalining pada siklus pertama yang meliputi :
a.     Memberikan motivasi kepada kelompok agar lebih aktif dalam pembelajaran
b.     Lebih intensif membimbing kelompok yang mengalami kesulitan
c.      Memberikan penghargaan kepada individu dan kelompok
d.     Membuat perangkat pembelajaran strategi jigsaw yang lebih mudah dipahami oleh siswa.
2.    Pelaksanaan (Acting)
Pada siklus kedua ini pelaksanaan sudah mulai lebih baik dibandingkan pada siklus pertama, yakni :
a.    Suasana pembelajaran sudah mengarah kepada pembelajaran strategi jigsaw. Tugas kelompok yang diberikan kepada guru dengan lembar kerja mampu dikerjakan dengan baik. Siswa sudah mampu bekerjasama dengan kelompok, siswa sudah mulai memahami peran mereka sebagai kelompok ahli dan kelompok asal, hal ini ditunjukkan dengan adanya diskusi dan tanya jawab dalam satu kelompok.
b.    Sebagian besar siswa merasa termotivasi untuk bertanya dan menanggapi presentasi dari kelompok lain.
c.    Suasana pembelajaran yang efektif dan menyenangkan sudah mulai tercipta.
3.    Pengamatan dan evaluasi
a.    Hasil Pengamatan pada siklus kedua tentang aktivitas siswa dalam PBM dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2
Perolehan Skor Aktifitas siswa dalam PBM Siklus II
Kelompok
Skor
Skor Ideal
Persentase (%)
Keterangan
Elang
9
12
75

Perkutut
8
12
67

Garuda
10
12
83
Tertinggi
Merpati
7
12
58
Terendah
Kutilang
8
12
67

Beo
8
12
67

Rerata
8
12
69






Grafik 2
Perolehan Skor Aktivitas Siswa dalam PBM Siklus II
b.     Hasil pengamatan siklus kedua kegiatan guru dalam proses belajar mengajar
Hasil observasi aktivitas guru dalam proses belajar mengajar tergolong sedang. Hal ini mengalami perbaikan dari siklus pertama, ini dibuktikan dengan hasil skor yaitu dari skor ideal 44 diperoleh nilai 36 atau 77 %.
c.    Hasil Evaluasi siklus kedua penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran
Hasil evaluasi siswa pada siklus kedua tergolong sedang yakni rata-rata 69 atau 69  % dari skor ideal 100.
d.    Hasil ulangan harian kedua (setelah menggunakan pembelajaran strategi jigsaw) juga mengalami peningkatan yang sebelumnya (belum menggunakan pembelajaran strategi jigsaw) yaitu 5,10 menjadi 6,03 setelah dilakukanpembelajaran dengan strategi jigsaw. Ini berarti naik 0,93.
4.    Refleksi dan Perencanaan Ulang (Reflecting and Replaining)
Kerberhasilan yang diperoleh dalam proses belajar mengajar pada siklus kedua ini adalah sebagai berikut :
a.     Aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar sudah mengarah ke pembelajaran strategi jigsaw. Siswa mampu menjalankan fungsinya sebagai kelompok ahli dan kelompok asal. Siswa mampu bekerjasama dengan baik, menyelesaikan tugas tepat waktu dan mampu mempresentasikan hasil kerja dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan penguasaan siswa terhadap materi yaitu 69% dari skor ideal 100 pada sklus kedua.
b.     Meningkatnya penguasaan materi oleh siswa pada proses belajar mengajar didukung oleh meningkatnya aktivitas guru dalam mempertahankan  dan meningkatkan suasana pembelajaran dengan menggunakan strategi jigsaw. Guru intensif membimbing siswa yang memgalami kesulitan dalam PBM, hal ini dapat dilihat dari 61 % pada siklus pertama menjadi 69 % pada siklus kedua.
c.      Meningkatnya nilai ulangan harian dari 5,10 (ulangan harian I) belum menggunakan strategi pembelajaran jigsaw menjadi 6,03 (ulangan harian II) setelah menggunakan strategi pembelajaran jigsaw.

C. Siklus Ketiga (Tiga Pertemuan)
Pada siklus ketiga ini terdiri dari, perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi, sebagaimana berikut.
1.    Perencanaan (planning)
Planning pada siklus ketiga ini sebagaimana repalining pada siklus  kedua  yaitu :
a.     Memberikan motivasi kepada kelompok agar lebih aktif lagi dalam pembelajaran
b.     Lebih intensif membimbing kelompok yang mengalami kesulitan
c.      Memberikan pengakuan atau penghargaan kepada individu dan kelompok
d.     Membuat perangkat pembelajaran strategi jigsaw yang lebih baik lagi.

1.    Pelaksanaan (Acting)
a.    Suasana pembelajaran sudah mengarah kepada pembelajaran strategi jigsaw. Tugas kelompok yang diberikan kepada guru dengan lembar kerja mampu dikerjakan dengan lebih baik lagi. Siswa sudah mampu bekerjasama dengan kelompok, siswa sudah memahami peran mereka sebagai kelompok ahli dan kelompok asal, hal ini ditunjukkan dengan adanya diskusi dan tanya jawab dalam satu kelompok dan kerjasama yang baik serta siswa lebih antusias dalam belajar.
b.    Hampir seluruh siswa termotivasi untuk bertanya dan menanggapi presentasi dari kelompok lain.
c.    Suasana pembelajaran yang efektif dan menyenangkan sudah lebih tercipta.
2.    Pengamatan dan evaluasi
a.     Hasil obsrvasi aktivitas siswa dalam PBM pada siklus ketiga dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 3
Perolehan Skor Aktivitas Siswa dalam PBM Siklus III
KELOMPOK
SKOR
SKOR IDEAL
PERSENTASE (%)
KETERANGAN
Elang
10
12
83

Perkutut
9
12
75

Garuda
11
12
92
Tertinggi
Merpati
8
12
67
Terendah
Kutilang
9
12
75

Beo
9
12
75

Rerata
9
12
78



Grafik 3
Perolehan Skor Aktifitas Siswa dalam PBM Siklus III
b.     Hasil observasi aktivitas guru dalam proses belajar mengajar mendapat nilai rerata 38 dari skor 44 atau 86 %. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan yang sangat signifikan.
c.      Pada siklus ketiga ini hasil evaluasi penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran juga mengalami perubahan yang sangat signifikan yakni rata-rata 78 atau 78 % dari skor ideal 100. Hal ini menunjukkan hasil penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran tergolong tinggi.
d.     Hasil ulangan harian ketiga (setelah menggunakan strategi jigsaw dalam pembelajaran). Mengalami peningkatan yang cukup berarti yakni, 7,08,
sedangkan sebelumnya 5,10 dan pada siklus kedua 6,03.
3.    Refleksi  (Reflecting)
Kerberhasilan yang diperoleh dalam proses belajar mengajar selama siklus ketiga ini adalah sebagai berikut :
a.     Aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar sudah mengarah ke pembelajaran strategi jigsaw secara lebih baik. Siswa sudah lebih baik menjalankan fungsinya sebagai kelompok ahli dan kelompok asal. Siswa mampu bekerjasama dengan lebih baik, menyelesaikan tugas tepat waktu dan mampu mempresentasikan hasil kerja dengan lebih baik. Hal ini dibuktikan dari pengamatan terhadap penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran pada siklus kedua 69% menjadi 78 % pada siklus ketiga.
b.     Meningkatnya penguasaan materi oleh siswa pada proses belajar mengajar didukung oleh meningkatnya aktivitas guru dalam mempertahankan  dan meningkatkan suasana pembelajaran dengan menggunakan strategi jigsaw. Guru intensif membimbing siswa terutama siswa yang memgalami kesulitan dalam PBM, hal ini dapat dilihat dari observasi terhadap aktivitas guru dalam PBM meningkat dari 77 % pada siklus kedua menjadi 86 % pada siklus ketiga..
c.      Meningkatnya nilai ulangan harian dari 5,10 (ulangan harian I) belum menggunakan strategi pembelajaran jigsaw menjadi 6,03 (ulangan harian II0 setelah menggunakan strategi pembelajaran jigsaw dan 7,08 (ulangan harian III) setelah menggunakan pembelajaran dengan strategi jigsaw.




















BAB V
PENUTUP

A.     SIMPULAN
Berdasarkan uraian dan penelitian Tindakan Kelas dapat disipulkan hal-hal sebagai berikut :
1.    Pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran jigsaw dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada proses belajar mengajar.
2.    Dari hasil observasi memperlihatkan terjadi peningkatan pada aktivitas siswa dan hasil belajarnya pada siklus pertama hanya rata-rata 61 % Nilai ulangan Harian 5,10 menjadi 69 % Nilai Ulangan harian menjadi 6, 03 pada siklus kedua dan 78 % Nilai Ulangan Harian 7,08 pada siklus ketiga.
3.    Aktivitas kelompok mencapai  kesempurnaan setelah siklus ketiga. Hal ini dapat dilihat dari aktivitas siswa mencapai 78 %.
4.    Pembelajaran dengan strategi pembelajaran Jigsaw relevan dengan pembelajaran kontekstual.
5.    Melalui pembelajaran dengan strategi jigsaw siswa membangun sendiri pengetahuannya, menemukan langkah-langkah dalam mencari penyelesaiansuatu masalah baik secara individu maupun kelompok.

B.    SARAN
Telah terbuktinya pembelajaran dengan mengunnakan strategi jigsaw dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam maka kami sarankan agar dalam kegiatan pembelajaran guru menerapkan strategi pembelajaran jigsaw sebagai suatu alternatif dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam serta diharapkan kegiatan Penelitian Tindakan Kelas ini dapat dilakukan secara berkesinambungan pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dan Mata pelajaran lainnya karena memberi manfaat kepada guru dan sisswa.












DAFTAR PUSTAKA
Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. 2008. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Harto, Kasinyo, & Abdurrahmansyah, , 2009. Metodologi Pembelajaran Berbasis Active Learning, Palembang : Grafika Telindo



Kunandar, 2010, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada
Lie, Anita. 2007. Cooperative Learning. Jakarta : Grasindo.
Nasih, Ahmad Munjin, & Kholidah, Lilik Nur, 2009.  Metode Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Bandung : PT Refika Mandiri.







[1] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain Strategi Belajar Mengajar (Jakarta : Rineka Cipta, 2006) h. 1
[2] Ibid h. 16
[3] Hamzah B. Uno Profesi Kependidikan (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2009) h. 22
[4] Harto, Kasinyo & Abdurrahmansyah, Metodologi Pembelajaran Berbasis Active Learning (Palembang ; Grafika Telindo, 2009)

[5] Anita Lie Cooperative Learning (Jakarta : PT Grassindo, 2007) h. 5
[7] Anita Lie Op Cit  h. 8
[8] Ibid h. 10
[9] Ibid h. 15